Foto Pertunjukan “PURIK”

Proses Latihan PURIK Disaksikan Oleh Fauzan Rizal (sutradara Ainun Habibie) dan istrinya Katia Engel (seniman performer Jerman) di Pondok Seni Wayang Ukur Ki Sigit Sukasman Mergangsan Yogyakarta

563468_323784811066591_966825736_n

Pasar Ngotho Imogir Bantul

549260_342332679212446_1128247052_n

299701_342326785879702_1853055832_n

Kampung Dukuh Mantrijeron Yogyakarta

734580_4898056481949_1816137835_n

150479_4444344154234_1932130803_n

540966_4444341274162_308023057_n

Dusun Mbutuh Siluk Trukan Imogiri Bantul

1623_4902799520522_1772785396_n

601175_4902800000534_1675490586_n

734389_4902803480621_688314191_n

480192_599463050066391_699352717_n

935022_599463446733018_199802651_n

Pendopo NdeLuweh Kotagede Yogyakarta

578067_4922728298729_862133722_n

484346_4922726938695_181814182_n

484912_10200771736525318_1902278163_n

Pondok Seni Wayang Ukur Ki Sigit Sukasman

521687_4638111038285_675341992_n

532257_10200360074778105_639077492_n

TVRI

774366_10200186884022319_5319489_o

Dusun Geneng Sewon Bantul

1004470_10201145392184642_1539249388_n

Dusun Sorogenen Sewon Bantul

17510_3470655060922_528585399_n

581083_10201367664821319_863715827_n

Dusun Mindi Sumberagung Jetis Bantul

13236_10200197892937535_558976495_n

1010323_10200197897897659_690279610_n

1013147_10200197857776656_966459890_n

999169_604542032909383_82609556_n

Dusun Sumberbathikan Trirenggo Bantul

1381881_676209502390772_532742502_n

17510_3470655060922_528585399_n 21304_4767306749864_1427291091_n 299883_4922727538710_1786329557_n 576494_344389992340048_812250051_n

Panen Raya Kebudayaan

Dalam tradisi Jawa panen merupakan peristiwa agung yang dinantikan para petani. Panen ditunggu sebagai puncak kemenangan dimana padi yang sudah di tanam kini boleh dituai untuk keberlangsunga hidup. Menanam, merawat, memelihara dan memanen. Siklus alamiah yang telah terjadi di kehidupan agraris wilayah tanah Jawa. Mengamati peristiwa panen sungguh hal yang simbolis dalam satu frame kejadian yang tengah berlangsung. Dimana semua petani berkumpul membaur dengan masyarakat lain. Saling bercerita mengenai hasil panen, bertukar pikiran, dan memandang kebanggan tanah sawahnya yang melimpah. Inilah kebudayaan yang sedang berlangsung.

Analogi di atas lalu ditaruh pada peristiwa kebudayaan yang lain yaitu pertunjukan teater. Teater yang mengkhususkan diri dengan bentuk bahasa Jawa. Adalah Komunitas Sego Gurih yaitu kelompok yang sudah konsisten sejak tahun 1998. Menginisiasi produksi pertunjukan keliling desa dan kampung. Tajuk mengenai “Panen Raya Kebudayaan” ini menjadi pijakan dasar bahwa semangat pertunjukan keliling inilah yang akan dibagikan kepada masyarakat. Spirit produksi pertunjukan yang patut dirayakan secara bersama. Menjadikan komunitas seni sebagai rumah yang dihidupi bersama secara kolektif. Komunitas seni yang terus mengartikulasikan bentuk dan gaya nya untuk disodorkan sebagai representasi kepada masyakarat. Proses yang berlangsung selalu mengetengahkan kesadaran penting untuk menjaga spirit berkomunitas menuju kesadaran estetika.

Kesadaran estetika secara kolektif inilah yang menjadi bekal utama berkomunitas. Dengan memandang masyarakat bukan sekedar penonton, tetapi penonton juga berhak atas partisipasi secara organisasi untuk terlibat bersama dengan komunitas ini membangun jejaring. Teater tanpa penonton apalah hebatnya, penonton tidak dilibatkan dalam setiap produksi pementasan apalah kekuatan teater ? Pengertian penonton di sini adalah masyarakat yang tinggal di desa dan kampung. Calon-calon penonton dan penonton yang akan mewarnai regenerasi penonton seni pertunjukan kota.

Artikulasi dalam “Panen Raya Kebudayaan” kali ini ialah menggelar pertunjukan dengan mendatangi rumah-rumah seniman tradisi di Yogyakarta. Berkunjung dan mengunjungi rumah seorang seniman tradisi Yogyakarta adalah pilihan kami. Rumah seniman tradisi yang akan dikunjungi ialah kediaan Yu Ningsih atau Yu Beruk dan Mbah Kasman Wayang Ukur. Pilihan sebagai kelompok yang berusaha menentukan artikulasi kreasi dan estetika. Memang dirasa bukan hanya “sekedar” pertunjukan semata. Namun bagi kami ini adalah gerakan kebudayaan yang sedang kami bangun dan cita-citakan secara kolektif. Perjumpaan dan pertukaran pikiran menjadi hal penting dalam pengalaman proses kreatif di tengah masyarakat.

Menjadi penanda penting sebagai sebuah komunitas teater berbahasa Jawa yaitu memandang bahwa romantisme rumah-rumah seniman tersebut menyisakan banyak kenangan. Kenangan dimana proses kreatif mereka memulai dan melahirkan karya-karya yang sampai hari ini masih bisa bersanding ramah dengan penonton dari generasi ke generasi. Mereka rindu ketika sebagai insan kesenian, ingin menampilkan sesutau untuk masyarakat di tempat tinggalnya. Berbagi hal yang sederhana melalui pertunjukan kesenian.

Alasan inilah membuat keyakinan sebagai kelompok untuk terus menginisiasi pertunjukan keliling secara kreatif. Komunitas Sego Gurih selalu butuh penonton dari berbagai struktur sosial yang majemuk. Komunitas seni yang ingin melihat kekuatan pribadinya seberapa kreatif bisa mengajak semua lapisan komunitas maupun masyarakat ikut terlibat dalam produksi pertunjukan kami. Menjadi biasa melakukan kunjungan ke rumah di desa dan kampung kota bahkan gang-gang sempit ditengah kemeriahan hiburan yang sudah sangat mainstream. Meskipun alat komunikasi yang dipakai cukup “tradisional” yaitu sandiwara berbahasa Jawa.

Ini hal yang dinamis bagi kelompok teater di Yogyakarta. Halaman rumah dua seniman tradisi yang kami anggap mereka adalah pionir dalam pengaruh kami belajar berdialektika secara Jawa. Lebih dahulu mendatangi karena ingin belajar bersanding dengan mereka lewat masyarkat di sekitar rumahnya. Siapa tahu karya kami mampu mengingatkan mereka dalam masa kenangan dahulu ketika Yogyakarta masih riuh dengan kesenian ketoprak dan seni pertunjukan tradisi di kampung. Dengan segala keramaian yang sederhana semua masyarakat mampu duduk sejajar dan bersama menyaksikan hiburan produksi mereka sendiri secara mandiri. Romantisme inilah yang ingin kami langsungkan salah satunya. Mengunjungi dan berbagi.

Lakon yang kami bawakan pun cukup representatif di telinga masyarakat saat ini. Cukup jamak dan domestik. Yaitu “PURIK” karya Wage Daksinarga. Mengetengahkan isu-isu seputar keluarga saat ini yang terhimpit ditengah gempuran ekonomi dan sosial serba terbatas. Menjadi figur sebuah bangunan keluarga kecil bahagia dan sejahtera pada faktanya memang tak semudah iklan-klan keluarga berecana yang berkumandang di televisi.

Keluarga adalah puisi yang paling indah pada petikan sinteron lawas Keluarga Cemara. Memang kami imani bersama bahwa keluarga menjadi penting sebagai ruang pertukaran pikrian antara suami, istri dan anak. Menempatkan posisi yang kemudian memperoleh pengakuan eksitensi secara informal. Semuanya butuh pendapat dan alasan untuk terus mempertahankan biduk rumah tangga yang ideal sesuai cita-cita.

Lakon inilah yang akan kami interaksi-kan kepada masyarakat. Silahkan saja akan ditanggapi seperti apa. Kami tuangkan ini bersama kerabat yang lain untuk mewujudkan karya pertunjukan yang membawa semangat kerakyatan. Tunggu kami di sela-sela waktu kesibukan anda, di antara gang-gang dan halaman rumah di desa dan kampung pinggiran kota. Di rumah mereka para seniman tradisi yang memberi banyak pengalaman kepada pertumbuhan kami sebagai kelompok kesenian yang belajar konsisten dengan bahasa Jawa. Selamat menantikan kami rombongan sandiwara berbahasa Jawa di kota Yogyakarta.

Jadwal putaran pertunjukan keliling dimulai tanggal 1 Maret 2013 di Pasar Ngotho JL. Imogiri Barat Bantul Yogyakarta, 3 Maret 2013 di halaman rumah Yu Beruk Dukuh MJ 1/1598 Yogyakarta, 5 Maret 2013 di Dusun Mbutuh Trukan Siluk Imogiri Bantul, 7 Maret 2013 di Kampung Kotagede sebelah barat Tom Silver. Pada putaran berikutnya akan digelar di tanggal 5 April 2013 di Dusun Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul dan 10 April 2013 di Padepokan Seni Wayang Ukur Mbah Kasman Mergangsan Tamansiswa. Semua pertunjukan akan digelar mulai jam 19.30 wib sampai dengan selesai. Bahkan secara meriah dan cuma-cuma untuk siapa saja yang masih sudi mengapresiasi bahasa ibu kita, bahasa Jawa. Mari kembali mencintai sekaligus memanen kebudayaan lokal dan bahasa Jawa.

Elyandra Widharta, Aktor di Komunitas Sego Gurih