Foto Pertunjukan “PURIK”

Proses Latihan PURIK Disaksikan Oleh Fauzan Rizal (sutradara Ainun Habibie) dan istrinya Katia Engel (seniman performer Jerman) di Pondok Seni Wayang Ukur Ki Sigit Sukasman Mergangsan Yogyakarta

563468_323784811066591_966825736_n

Pasar Ngotho Imogir Bantul

549260_342332679212446_1128247052_n

299701_342326785879702_1853055832_n

Kampung Dukuh Mantrijeron Yogyakarta

734580_4898056481949_1816137835_n

150479_4444344154234_1932130803_n

540966_4444341274162_308023057_n

Dusun Mbutuh Siluk Trukan Imogiri Bantul

1623_4902799520522_1772785396_n

601175_4902800000534_1675490586_n

734389_4902803480621_688314191_n

480192_599463050066391_699352717_n

935022_599463446733018_199802651_n

Pendopo NdeLuweh Kotagede Yogyakarta

578067_4922728298729_862133722_n

484346_4922726938695_181814182_n

484912_10200771736525318_1902278163_n

Pondok Seni Wayang Ukur Ki Sigit Sukasman

521687_4638111038285_675341992_n

532257_10200360074778105_639077492_n

TVRI

774366_10200186884022319_5319489_o

Dusun Geneng Sewon Bantul

1004470_10201145392184642_1539249388_n

Dusun Sorogenen Sewon Bantul

17510_3470655060922_528585399_n

581083_10201367664821319_863715827_n

Dusun Mindi Sumberagung Jetis Bantul

13236_10200197892937535_558976495_n

1010323_10200197897897659_690279610_n

1013147_10200197857776656_966459890_n

999169_604542032909383_82609556_n

Dusun Sumberbathikan Trirenggo Bantul

1381881_676209502390772_532742502_n

Sarkem

Panen Raya Kebudayaan

Dalam tradisi Jawa panen merupakan peristiwa agung yang dinantikan para petani. Panen ditunggu sebagai puncak kemenangan dimana padi yang sudah di tanam kini boleh dituai untuk keberlangsunga hidup. Menanam, merawat, memelihara dan memanen. Siklus alamiah yang telah terjadi di kehidupan agraris wilayah tanah Jawa. Mengamati peristiwa panen sungguh hal yang simbolis dalam satu frame kejadian yang tengah berlangsung. Dimana semua petani berkumpul membaur dengan masyarakat lain. Saling bercerita mengenai hasil panen, bertukar pikiran, dan memandang kebanggan tanah sawahnya yang melimpah. Inilah kebudayaan yang sedang berlangsung.

Analogi di atas lalu ditaruh pada peristiwa kebudayaan yang lain yaitu pertunjukan teater. Teater yang mengkhususkan diri dengan bentuk bahasa Jawa. Adalah Komunitas Sego Gurih yaitu kelompok yang sudah konsisten sejak tahun 1998. Menginisiasi produksi pertunjukan keliling desa dan kampung. Tajuk mengenai “Panen Raya Kebudayaan” ini menjadi pijakan dasar bahwa semangat pertunjukan keliling inilah yang akan dibagikan kepada masyarakat. Spirit produksi pertunjukan yang patut dirayakan secara bersama. Menjadikan komunitas seni sebagai rumah yang dihidupi bersama secara kolektif. Komunitas seni yang terus mengartikulasikan bentuk dan gaya nya untuk disodorkan sebagai representasi kepada masyakarat. Proses yang berlangsung selalu mengetengahkan kesadaran penting untuk menjaga spirit berkomunitas menuju kesadaran estetika.

Kesadaran estetika secara kolektif inilah yang menjadi bekal utama berkomunitas. Dengan memandang masyarakat bukan sekedar penonton, tetapi penonton juga berhak atas partisipasi secara organisasi untuk terlibat bersama dengan komunitas ini membangun jejaring. Teater tanpa penonton apalah hebatnya, penonton tidak dilibatkan dalam setiap produksi pementasan apalah kekuatan teater ? Pengertian penonton di sini adalah masyarakat yang tinggal di desa dan kampung. Calon-calon penonton dan penonton yang akan mewarnai regenerasi penonton seni pertunjukan kota.

Artikulasi dalam “Panen Raya Kebudayaan” kali ini ialah menggelar pertunjukan dengan mendatangi rumah-rumah seniman tradisi di Yogyakarta. Berkunjung dan mengunjungi rumah seorang seniman tradisi Yogyakarta adalah pilihan kami. Rumah seniman tradisi yang akan dikunjungi ialah kediaan Yu Ningsih atau Yu Beruk dan Mbah Kasman Wayang Ukur. Pilihan sebagai kelompok yang berusaha menentukan artikulasi kreasi dan estetika. Memang dirasa bukan hanya “sekedar” pertunjukan semata. Namun bagi kami ini adalah gerakan kebudayaan yang sedang kami bangun dan cita-citakan secara kolektif. Perjumpaan dan pertukaran pikiran menjadi hal penting dalam pengalaman proses kreatif di tengah masyarakat.

Menjadi penanda penting sebagai sebuah komunitas teater berbahasa Jawa yaitu memandang bahwa romantisme rumah-rumah seniman tersebut menyisakan banyak kenangan. Kenangan dimana proses kreatif mereka memulai dan melahirkan karya-karya yang sampai hari ini masih bisa bersanding ramah dengan penonton dari generasi ke generasi. Mereka rindu ketika sebagai insan kesenian, ingin menampilkan sesutau untuk masyarakat di tempat tinggalnya. Berbagi hal yang sederhana melalui pertunjukan kesenian.

Alasan inilah membuat keyakinan sebagai kelompok untuk terus menginisiasi pertunjukan keliling secara kreatif. Komunitas Sego Gurih selalu butuh penonton dari berbagai struktur sosial yang majemuk. Komunitas seni yang ingin melihat kekuatan pribadinya seberapa kreatif bisa mengajak semua lapisan komunitas maupun masyarakat ikut terlibat dalam produksi pertunjukan kami. Menjadi biasa melakukan kunjungan ke rumah di desa dan kampung kota bahkan gang-gang sempit ditengah kemeriahan hiburan yang sudah sangat mainstream. Meskipun alat komunikasi yang dipakai cukup “tradisional” yaitu sandiwara berbahasa Jawa.

Ini hal yang dinamis bagi kelompok teater di Yogyakarta. Halaman rumah dua seniman tradisi yang kami anggap mereka adalah pionir dalam pengaruh kami belajar berdialektika secara Jawa. Lebih dahulu mendatangi karena ingin belajar bersanding dengan mereka lewat masyarkat di sekitar rumahnya. Siapa tahu karya kami mampu mengingatkan mereka dalam masa kenangan dahulu ketika Yogyakarta masih riuh dengan kesenian ketoprak dan seni pertunjukan tradisi di kampung. Dengan segala keramaian yang sederhana semua masyarakat mampu duduk sejajar dan bersama menyaksikan hiburan produksi mereka sendiri secara mandiri. Romantisme inilah yang ingin kami langsungkan salah satunya. Mengunjungi dan berbagi.

Lakon yang kami bawakan pun cukup representatif di telinga masyarakat saat ini. Cukup jamak dan domestik. Yaitu “PURIK” karya Wage Daksinarga. Mengetengahkan isu-isu seputar keluarga saat ini yang terhimpit ditengah gempuran ekonomi dan sosial serba terbatas. Menjadi figur sebuah bangunan keluarga kecil bahagia dan sejahtera pada faktanya memang tak semudah iklan-klan keluarga berecana yang berkumandang di televisi.

Keluarga adalah puisi yang paling indah pada petikan sinteron lawas Keluarga Cemara. Memang kami imani bersama bahwa keluarga menjadi penting sebagai ruang pertukaran pikrian antara suami, istri dan anak. Menempatkan posisi yang kemudian memperoleh pengakuan eksitensi secara informal. Semuanya butuh pendapat dan alasan untuk terus mempertahankan biduk rumah tangga yang ideal sesuai cita-cita.

Lakon inilah yang akan kami interaksi-kan kepada masyarakat. Silahkan saja akan ditanggapi seperti apa. Kami tuangkan ini bersama kerabat yang lain untuk mewujudkan karya pertunjukan yang membawa semangat kerakyatan. Tunggu kami di sela-sela waktu kesibukan anda, di antara gang-gang dan halaman rumah di desa dan kampung pinggiran kota. Di rumah mereka para seniman tradisi yang memberi banyak pengalaman kepada pertumbuhan kami sebagai kelompok kesenian yang belajar konsisten dengan bahasa Jawa. Selamat menantikan kami rombongan sandiwara berbahasa Jawa di kota Yogyakarta.

Jadwal putaran pertunjukan keliling dimulai tanggal 1 Maret 2013 di Pasar Ngotho JL. Imogiri Barat Bantul Yogyakarta, 3 Maret 2013 di halaman rumah Yu Beruk Dukuh MJ 1/1598 Yogyakarta, 5 Maret 2013 di Dusun Mbutuh Trukan Siluk Imogiri Bantul, 7 Maret 2013 di Kampung Kotagede sebelah barat Tom Silver. Pada putaran berikutnya akan digelar di tanggal 5 April 2013 di Dusun Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul dan 10 April 2013 di Padepokan Seni Wayang Ukur Mbah Kasman Mergangsan Tamansiswa. Semua pertunjukan akan digelar mulai jam 19.30 wib sampai dengan selesai. Bahkan secara meriah dan cuma-cuma untuk siapa saja yang masih sudi mengapresiasi bahasa ibu kita, bahasa Jawa. Mari kembali mencintai sekaligus memanen kebudayaan lokal dan bahasa Jawa.

Elyandra Widharta, Aktor di Komunitas Sego Gurih

PERTUNJUKAN TEATER SEBAGAI MEDIA PESAN LEWAT KOMUNITAS SEGO GURIH

JURNAL SKRIPSI S1 PRODI KOMUNIKASI 2012

STPMD YOGYAKARTA

Oleh : Stevania Melati Puspitasari

 

Abstraksi

Pertunjukan teater sebagai media pesan ini berusaha menguraikan beberapa kajian komunikasi yang berhubungan dengan seni pertunjukan. Teater yang dipandang sebagai cabang seni ternyata mempunyai korelasi dengan proses komunikasi manusia ditinjau dari fungsi teater itu sediri. Teater merupakan alat komunikasi dan berfungsi mengkomunikasikan pesan. Salah satu yang bisa dilihat jelas adalah proses penyampaian pesannnya.

Teater menjadi media alternatif dalam komunikasi. Ketika media mainstream yang bermunculan cukup tak terbendung perkembangannya. Media komunikasi tradisional mudah ditinggalkan dan dirasa sudah kuno. Sebenarnya memang yang terjadi karena persoalan akses informasi dan komunikasi yang belum merata di masyarakat. Masyarakat yang tinggal di pedesaan dan perkampungan belum tentu merasakan kemudahan fasilitas untuk mendapat informasi. Khususnya sebuah hiburan pertunjukan yaitu seni pertunjukan kerakyatan. Sebuah teater yang membawakan lakon-lakon cerdas dan sarat dengan kritik sosial. Sekaligus mudah dipahami karena bahasa yang digunakan ada bahasa Jawa.

 

Pendahuluan

Dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk masih banyak akses informasi yang belum begitu merata. Tidak banyak yang mengenal media komunikasi tertentu sebagai akses informasi yang mudah dijangkau. Sementara arus informasi yang saat ini berkembang semakin cepat, dilain hal masyarakat yang masih minim fasilitas menjadi ketinggalan. Komunikasi dan informasi menjadi hal yang paling mendasar. Meski sebenarnya dalam aspek kebudayaan masyarakat masih mempunyai media komunikasi tradisional dan cukup relevan diakses dengan mudah. Media tersebut ialah seni pertunjukan atau masyarakat lebih sering mengenalnya dengan pertunjukan, sandiwara atau teater.

Pertunjukan teater merupakan media yang berfungsi sebagai alat komunikasi. Tentu saja media yang digunakan bersifat alternatif. Rangkaian pesan yang disampaikan dalam pertunjukan teater  pun cukup beragam. Mulai dari pesan sosial, politik bahkan moral sekalipun. Bukan tidak lagi mempercayai media yang sudah baku, tetapi persoalan terobosan baru mengenai proses komunikasi melaui media yang lain. Ada hal menarik jika media pesan yang disampaikan melalui pertunjukan teater. Fungsinya untuk menyalurkan ide, gagasan, aspirasi, inovasi, dan juga kritik. Pertunjukkan teater merupakan sebuah upaya mengkomunikasikan pesan-pesan kepada masyarakat. Oleh karena berbagai faktor, seperti minimnya pengetahuan dan ketrampilan masyarakat pada sebuah tempat, kemudian persoalan status sosial ekonomi sehingga tidak mampu mengakses informasi baik formal maupun non formal. Persoalan mendasar yang lainnya yaitu pendidikan, misalnya kemampuan baca dan tulis sangat kurang.

Berdasarkan faktor di atas pemilihan pertunjukkan teater sebagai media untuk mengkomunikasikan pesan pada masyarakat haruslah tepat, sesuai, dan kontekstual. Media pesan cukup fleksibel dan berisikan komunikasi yang persuasif tentunya akan sangat mudah disisipkan pesan-pesan tertentu, biasanya berisikan tentang keteladanan, simbol, ritual, cita-cita budaya, dan nilai moral, semua itu dikomunikasikan dengan gaya bahasa yang dekat dengan masyarakat.

Ragam media tradisional sendiri dapat berupa teater rakyat, pewayangan, penceritaan/kisah-kisah, tarian rakyat, balada, dan lawakan. Media ini merupakan sarana yang paling umum terutama pada masyarakat. Teater dan masyarakat itu dua hal yang saling melengkapi. Dalam kajian sosiologi teater, sebuah pementasan teater bisa dianggap merepresentasikan peristiwa kehidupan. Kehidupan itu realitas sosial. Kehidupan masyarakat mencakup hubungan antar kelompok masyarakat dengan orang-orang, antar orang-orang dan antar peristiwa (Nur Sahid, 2008:21). Realitas sosial yang tersaji dalam rangkaian peristiwa tentu saja terdapat begitu banyak pesan. Karena pertunjukan teater merupakan salah satu perwujudan dunia sosial seperti yang menyangkut seluruh aktivitas hubungan manusia dengan lingkungannya.

Penggunaan media pesan yang bersifat tradisional sendiri memiliki beberapa tujuan seperti membangun hubungan kedekatan antara masyarakat dengan pemerintah, pengikat atau perekat transaksi sosial, pengakuan atau penghargaan identitas diri dan eksistensi budaya, penyeimbang dominasi media modern, menghilangkan pembatas sistem tradisional dan modern (Onong Uchjana Effendy, 1992:134).

Bagaimana jika media pesan itu disampaikan melalui pertunjukan teater, hal ini yang menarik penulis untuk dilakukan penelitian. Dalam hal ini teater sebagai media pesan berfungsi sebagai representasi kehidupan mampu memberikan akses informasi dan komunikasi yang cukup efektif. Bahkan teater sebagai pertunjukan mampu menghadirkan isu-isu aktual seputar kritik pembangunan dan masalah sosial. Masyarakat diajak untuk bebas bicara soal apapun dan mencermati kehidupan sehari-hari melalui representasi yang dihadirkan melalui lakon di atas panggung. Teater berelasi sedemikian akrab bersama penonton yang masih awam atau pun masyarakat yang sudah begitu mengenal produk pertunjukan lokal mereka sendiri. Pertunjukan dengan semangat kerakyatan.

Hal tersebut di atas yang menjadi semacam pemicu lahirnya kelompok teater sebagai media pesan yang dilakukan oleh Komunitas Sego Gurih. Sebuah kelompok sandiwara berbahasa Jawa yang hingga kini masih produktif membuat produksi pertunjukan keliling. Mulai dari keliling desa sampai dengan perkampungan tengah kota urban. Pementasan selama ini dilakukan dengan membidik segmentasi penonton yang sangat fleksibel dari berbagai macam kalangan.

Komunitas Sego Gurihtidak ingin selektif memilih penonton, justru usaha yang selalu dilakukan adalah bagaimana sebuah pertunujukan teater itu menghibur, namun tetap interaktif dan komunikatif. Maka untuk mencapai target tersebut Komunitas Sego Gurih sengaja untuk tidak mementaskan di gedung-gedung pertunjukan yang sudah baku atau konvensional. Justru pemanggungan akan dilakukan di desa-desa maupun kampung-kampung kota. Maksudnya di sini ingin memberikan tawaran baru dengan bentuk pementasan teater lingkungan. Khususnya teater yang belajar peka terhadap lingkungan sosialnya. Bagaimana teater merespon dan bersinergi dengan lingkungan, baik tempat, atmosfir maupun penonton.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Komunitas Sego Gurih awalnya berdiri di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) pada tahun 1996. Sekarang berganti menjadi SMK 1 Kasihan Bantul Yogyakarta. Dominasinya adalah anak-anak dari jurusan teater. Komunitas ini sering membuat pertunjukan keliling keluar sekolah di acara-acara nikahan, perpisahan kuliah kerja nyata, di halaman rumah acara tujuh belasan, atau dipinggir sawah. Pada prinsipnya bahwa komunitas yang dibuat untuk menjadi ruang kesenian yang menyenangkan siapa saja. Rumah komunitas bagi mereka yang mempunyai tujuan bersama dan minat yang sama yaitu melestarikan budaya khususnya bahasa Jawa. Pada tahun 2002 beberapa personil silih berganti, lalu diperkuat beberapa mahasiswa jurusan teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Komunitas Sego Gurih sudah melakukan hampir seluruhnya 26 produksi pementasan terhitung sejak tahun 1998. Produksi  pertunjukan ini bersifat inisiasi secara swadaya, maupun seleksi acara festival ataupun undangan.

Komunitas Sego Gurih memang melakukan pertunjukan sebagai bagian dari klangenan atau mengelola kesukaan atau hobi pada minat khusus yaitu seni teater. Sebagai sebuah komunitas teater nirlaba masalah dana menjadi sesuatu yang mendasar. Dana merupakan tumpuan yang tidak bisa dipandang remeh. Dana mempunyai peran besar dimana produksi pertunjukan keliling dilakukan. Meski hanya komunitas dengan motivasi kecintaan yang sama terhadap teater. Persoalan dana menjadi tanggung jawab setiap anggota komunitas untuk pencarian usaha sumber dana.

Selama ini langkah yang dilakukan sejak berdiri tahun 1998 memang pertunjukan keliling membawa dampak positif dalam membangun jejaring untuk prospek pendanaan. Membuat produksi pertunjukan berarti sama halnya sedang melakukan relasi sosio-ekonomi bersama orang lain. Berjejaring dengan  individu, komunitas dan lembaga yang sekiranya memang berminat menjalin kerjasama. Jadi sembari memproduksi pertunjukan, berlangsung pula usaha menciptakan komunikasi yang tujuannya membangun relasi dan informasi sumber dana. Peristiwa pertunjukan menjadi strategi yang cukup potensial untuk membangun jaringan. Pada akhirnya jaringan Komunitas Sego Gurih yang selama ini diajak kerjasama sebagai sumber dana terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari institusi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, tokoh, seniman, karang taruna kampung atau desa, pengusaha, artis film, komunitas otomotif, komunitas film atau fotografi.

 1.    Teater sebagai Media Komunitas

Awalan bentuk lahirnya sebuah komunitas tentu beragam sebab dan tujuannya. Hal ini didasari dahulu mengenai semangat untuk berkumpul dan asas manfaatnya. Komunitas menjadi ruang artikulasi alternatif selain organisasi formal maupun nonformal. Adakalanya pemenuhan untuk membentuk komunitas itu lahir dari proses aktualisasi diri manusia. Setiap manusia sebagai individu mempunyai kebutuhan ini. Jadi cukup dikatakan wajar dan alamiah. Menurut psikolog Abraham Harold Maslow bahwa,

“Kebutuhan ini muncul setelah semua kebutuhan sebelumnya terpenuhi. Aktualisasi diri adalah hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya. Atau hasrat dari individu untuk menyempurnakan dirinya melalui pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya. Aktualisasi diri itu berupa pengembangan potensi sesuai bakat, talenta dan hobi yang dimiliki : seperti pemusik, olah raga dan bakat lainnya” (Harold Maslow, 2004:279).

Sangat jelas sekali bahwa aktualisasi diri merupakan dasar seseorang ataupun manusia. Manusia sebagai individu maupun kelompok untuk melahirkan, membentuk ataupun membangun komunitas. Komunitas bisa dilahirkan oleh siapapun dan dimanapun tergantung dengan prioritas dan orientasi ke masa depan. Selain itu manusia juga didukung dengan pernyatan bahwa manusia adalah mahkluk sosial. Secara sadar bahwa kebutuhan aktualisasi tersebut tentunya memang diselaraskan dengan proses interaksi sosial, sehingga komunitas menjadi alat atau media untuk manusia menjalankan fungsi sosialnya di masyarakat.

Fungsi sosial manusia lahir dari kebutuhan akan fungsi tersebut oleh orang lain, dengan demikian produktivitas fungsional dikendalikan oleh berbagai macam kebutuhan manusia (Burhan Bungin, 2006:26). Di sinilah terlihat jelas bahwa komunitas menjadi bagian dari regulasi dan proses komunikasi. Manusia menempatkan fungsi sosialnya dan mendapatkan kesadaran aktualisasinya di dalam masyarakat.

Media komunitas merupakan institusi media yang relatif kecil atau terbatas pada komunitas tertentu yag pada umumnya memiliki hubungan langsung dan intensif (Eni Maryani, 2011:62). Memang awalnya komunitas ini didominasi anak-anak murid kelas dari jurusan teater. Kecintaan mereka terhadap bahasa Jawa dirasa perlu diaktualisasikan bersama dalam sebuah kelompok atau komunitas seni pertunjukan. Karena dirasa dilingkungan sekolah pada waktu itu banyak sekali lahir kelompok teater dengan gaya pertunjukan yang realis dan menggunakan bahasa Indonesia.

Lahir dengan semangat dan kebutuhan aktualisasi pada minat yang sama, lalu mendasari kelompok ini dengan cita-cita yang sederhana. Cita-citanya yaitu mencari ruang kesenian di luar sekolah yang sifatnya tidak mengikat dengan tuntutan sekolah. Ruang komunitas yang benar-benar dirasa nyaman untuk berbagi gagasan bersama. Jadi jelas bahwa Komunitas Sego Gurih dilahirkan sebagai kelompok yang diinisiasi bersama untuk mengerjakan teater berbasis komunitas. Meski secara pertumbuhan komunitas ini berada di lingkungan sosial sekolah. Tidak menjadi halangan pada waktu komunitas ini juga mampu bersaing dengan kelompok teater yang tumbuh di Yogyakarta. Komunitas ini tetap mendapat tempat tersendiri di penggemar teater berbahasa Jawa. Karena boleh dikatakan komunitas ini dikatakan unik secara pilihan bahasa komunikasinya.

Hal yang terkuat yang dimiliki komunitas ini adalah memproduksi pertunjukan yang dikelilingkan di kampung maupun desa. Mereka sengaja tidak memilih panggung baku seperti umumnya. Pertunjukan bisa saja terjadi di pendapa kelurahan, balai desa, halaman samping rumah, pekarangan tanpa tuan, lapangan dan sebagainya. Kedekatan secara pertunjukan inilah yang ditunjukkan bahwa komunitas ini benar-benar mendatangi penonton. Mereka tidak menungu penonton untuk datang ke gedung pertunjukan. Teater milik siapa saja, tidak hanya seniman dan mahasiswa. Masyarakat pinggiran dimanapun membutuhkan tontonan kerakyatan ini.

Pemanggungan di sini yang dibayangkan dalam kepala sutradara bukanlah “ideologi”teater yang intelektual. Tetapi lebih berbicara sesuatu yang sederhana mulai dari yang sederhana pula. Proses pertukaran gagasan dan gesekan kreatif yang muncul dari anggota komunitas cukup diakomodir untuk kepentingan artsitik pertunjukan. Siapa saja boleh saling berbagi ide dan kreativitas untuk mendukung sebuah pertunjukan. Bahkan dalam buku Menyentuh Teater mengungkapkan pertunjukan akan menjadi baik jika terjadi kekompakan antara pengisi acara dan pekerja pertunjukan tersebut (Nano Riantiarno, 2003:103).

Teater bahasa Jawa Komunitas Sego Gurih mempunyai komitmen bahwa segala pengelolaan komunitas dan produksi pertunjukan menganut manajemen saling percaya. Meski pada prakteknya proses kepercayaan itu menjadi sulit dilakukan. Hal semacam itu memang perlu didukung komunikasi yang baik sekaligus tepat sasaran. Sebab bagaimanapun manajemen adalah proses bukan teori baku kemudian berjalan dengan sendirinya. Sementara kepercayaan ialah bagian dari potensi komunikasi antar manusia. Dalam pengertian komunitas, komunikasi yang terjadi bahkan mirip dengan komunikasi kelompok. Karena kelompok yang baik adalah kelompok yang dapat mengatur sirkulasi tatap muka yang intensif diantara anggota kelompok, serta tadi tatap muka itu pula akan mengatur sirkulasi komunikasi makna diantar mereka, sehingga mampu melahirkan sentimen-sentimen kelompok serta kerinduan diantara mereka (Burhan Bungin, 2006:270).

 2.    Teater sebagai Media Pesan

Penonton mempunyai peran penting dalam pementasan teater. Teater tanpa penonton itu mustahil. Tanpa penonton, teater bukanlah peristiwa budaya. Jadi penonton memiliki kekuatan yang dibutuhkan dalam setiap seni pertunjukan seperti halnya komunikasi, penonton adalah salah satu komunikan. Dalam kajian ilmu sosiologi teater menyebutkan bahwa melacak apakah penonton memiliki interaksi dengan pementasan dan evaluasi pementasan teater: apakah unsur teatrikal dan kultural yang ada bisa menuntun atau mengintervensi penonton terhadap teaterikal sosial; mentalitas, emosi dan nilai penonton, dan pengaruh ideologi terhadap cara penonton dalam menyaksikan pementasan teater (Nur Sahid, 2008:156). Dalam kajian sosiologi komunikasi tentu saja masih relevan menyebutkan penonton merupakan bagian dari masyarakat tertentu. Seperti yang dikemukakan Burhan Bungin bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan (Soekanto, 2003:24). Seperti yang dijelaskan dalam penelitian ini bahwa teater merupakan salah satu produk kebudayaan masyarakat.

Pertunjukan Komunitas Sego Gurih selama ini dilakukan dengan mendekatkan kepada penonton yang sangat fleksibel dari berbagai macam kalangan. Komunitas Sego Gurihtidak ingin mengkotakkan penonton, justru usaha yang selalu dilakukan adalah bagaimana sebuah pertunujukan teater itu menghibur, namun tetap interaktif, komunikatif dan representatif. Maka untuk mencapai target tersebut, pertunjukan tidak dipentaskan di gedung-gedung pertunjukan yang sudah baku atau konvensional (prosceneum). Justru pemanggungan akan dilakukan di desa-desa maupun kampung-kampung kota. Maksudnya di sini ingin memberikan tawaran baru dengan bentuk pementasan teater berbasis lingkungan. Teater yang belajar peka terhadap lingkungan sosial penonton. Bagaimana teater merespon dan bersinergi dengan lingkungan, baik tempat, atmosfir maupun penonton. Komunitas ini tidak ingin menunggu penonton yang mencari pertunjukan tapi kami akan “mencari dan menghadang penonton”. Di situlah pengertian dari kenapa kami mementaskan di beberapa tempat yang sebenarnya bukan standar gedung pertunjukan teater. Karena penonton dianggap menjadi pendukung pertunjukan yang paling utama. Sekaligus penonton mempunyai posisi tawar sebagai komunikan yang patut diperhitungkan.

Hal yang paling terpenting sepanjang sejarah komunitas ini berdiri dan produktif adalah proses berteater yang memang diproduksi untuk pertunjukan keliling. Bagian yang terpenting dalam teater adalah pesan. Pesan apakah yang akan disampaikan kepada penonton dan masyarakat. Pesan yang kelak akan diapresiasi dan diterjemahkan ulang oleh penonton dengan persepsi mereka masing-masing. Seperti diungkapkan bahwa untuk memperkuat kesan bahwa pementasan yang sedang berlangsung adalah pementasan yang paling penting dalam  kehidupan aktor. Guna menimbulkan kesan ini, maka harus dibuat sedemikian rupa seingga ada pemisahan antara aktor dan penonton agar jika ada kesalahan atau kekeliruan dalam pementasan, penonton tidak bakal mengetahuinya. Kalaupun penonton menemukan kekeliruan, aktor mengharapkan bahwa hal itu tidak bakal mengubah citra mereka di mata penonton (Bernard Raho 2007:121). Persoalan inilah yang kemudian ditangkap sebagai hubungan emosional antara aktor atau pelaku dengan penonton. Kesan menjadi sangat penting di dalam proses penyampaian pesan. Membangun kesan tertentu juga diperlukan untuk berkomunikasi dengan masyarakat.

Penonton merupakan bagian dari sistem sosial di dalam masyarakat. Maka ketika teater akan hadir di tengah masyarakat tersebut harus patuh dengan sistem sosial yang sudah berlaku. Hal kepatuhan ini yang sebenarnya berkaitan dengan tema pertunjukan kenapa harus digelar di desa atau kampung. Tema tersebut yang diuraikan tentu saja adalah pesan itu sendiri. Komunitas ini dituntut akan membawakan pesan apa, kepada siapa dan mengapa. Hal ini yang mendasari teater yang dibuat untuk masyarakat desa atau kampung. Seperti yang sudah diuraikan dalam bab sebelumnya bahwa ini akan ditinjau dengan dengan model Harold Laswell. Pesan (message) mempunyai kedudukan kedua setelah sumber (source). Tentu saja pesan yang dikomunikasikan melalui pertunjukan teater. Unsur sumber (who) merangsang pertanyaan mengenai pengendalian pesan, sedangkan unsur pesan (says what) merupakan bahan untuk analisis isi (Dedy Mulyana 2009:148).

Dalam penyampaian pesan peran seorang aktor mempunyai fungsi yang paling penting. Pertunjukan teater akan sukses atau pesan yang dibawa akan sampai kepada penonton tentu saja melalui dialog-dialog yang di ucapkan aktor. Peranan aktor membawa pengaruh kepada penonton melalui representasi kehidupan melalui cerita yang dilakonkan di atas panggung. Melalui aktorlah sebuah pertunjukan menjadi tahu siapa penontonnya, atau bagaiaman karakter penontonnya. Karena hal itu dibuktikan ketika pertunjukan berlangsung, setiap aktor akan berinteraksi dengan penonton. Respon penonton bisa terbaca salah satunya melalui aktor. Jadi aktor mempunyai kendali penuh dalam penyampaian pesan kepada penonton.

Proses penyampaian pesan mempunyai urutan seperti yang diungkapkan Alan H. Monroe bahwa, ada lima langkah dalam urutan penyusunan pesan : perhatian, kebutuhan, pemuasan, visualisasi, dan tindakan(Jalaluddin Rakhmat, 2009:297).

Pengertiannya bahwa pertunjukan teater juga mempunyai urutan proses penyampaian pesan. Yaitu melalui proses urutan yang sesuai menurut pendapat di atas. Pengertian urutan proses penyampaiannya sebagai berikut ini :

  1. Perhatian

Komunitas Sego Gurih sebagai pertunjukan teater mempunyai caranya mencari perhatian. Tentu saja dengan suasana kemeriahan yang didukung lampu atau cahaya dan musik. Sebelum pertunjukan dimulai pengaruh musik atau tata suara (sound) bisa mengundang perhatian khusus secara pendengaran. Apalagi tata lampu mempunyai kekuatan bahwa informasi bisa ditangkap melalui cahaya meskipun tampak dari kejauhan.

Informasi yang dipublikasikan melalui poster atau undangan. Publikasi yang sudah disebar ke beberapa tempat di daerah pertunjukan itu mempunyai tujuan untuk mencari perhatian. Perhatian masyarakat agar mau merespon informasi tersebut sehingga ditanggapi dengan baik. Perhatian menjadi proses yang saling menanggapi antara Komunitas Sego Gurih dan masyarakat. Disamping itu seorang aktor harus piawai memainkan watak tokoh dengan bagus. Meski sesekali disisipi dengan nyanyian bersama pemusik atau gaya karikatural yang mengarah ke komedi. Keharmonisan inilah yang mendukung untuk penyampaian pesan moral ataupun kritik sosial selama pertunjukan.

  1. Kebutuhan

Jelas bahwa pertunjukan akan didatangi penonton karena keduanya saling mempunyai kebutuhan yaitu menghibur dan terhibur. Tak bisa dipungkiri bahwa selain hiburan, manusia juga membutuhkan aktualisasi. Menonton hiburan berarti sebelumnya mempunyai kesiapan secara psikologis bahwa dengan sadar sedang membutuhkan hiburan. Kebutuhan akan hiburan inilah yang nampak secara jelas, apalagi pertunjukan tersebut digelar tanpa pungutan biaya.

Komunitas Sego Gurih sebelumnya tentu meyakinkan masyarakat melalui informasi dan komunikasi bahwa pertunjukannya gratis. Hal itu sama dengan komunitas ini berusaha meyakinkan akan kebutuhan penontonnya. Bahwa hiburan itu diberikan secara cuma-cuma. Semacam ada kebutuhan penonton yang secara langsung terpenuhi oleh pertunjukan teater. Begitu juga sebaliknya Komunitas Sego Gurih jadi merasa yakin bahwa dengan memberikan informasi gratis pasti akan ada banyak sekali yang menonton.

  1. Pemuasan

Disaat penonton sudah merasa dirinya yakin ia akan merasa puas. Karena kebutuhannya merasa diakomodir oleh teater. Bahwa penonton siap akan datang untuk melihat pertunjukan teater. Prosesnya menjadi demikian, karena penonton datang ke pertunjukan dengan membawa harapan kepada apa yang akan disaksikan.

Belum lagi ketika pertunjukan berlangsung bahwa penonton diajak untuk masuk menyelami cerita dari dasar kehidupan sehari-hari. Penonton sebenarnya mengalami perjumpaan itu dalam kehidupannya lalu menyaksikan kembali dalam representasi pertunjukan. Proses komunikasi inilah yang terjadi bahwa Komunitas Sego Gurih dan masyarakat sedang berusaha saling memberikan kepuasan.

  1. Visualisasi

Komunitas Sego Gurih menyajikan pertunjukan tentu saja dengan visualisasi yang dengan unsur semacam konser langsung dihadapan penonton. Karena teater berbeda dengan film. Visualisasi tersebut juga didukung bahwa teater yang disajikan bukan memberi jarak dengan penonton. Seperti halnya di gedung pertunjukan, antara pelaku pertunjukan dan pemain dibedakan dengan jarak antara panggung dan tempat duduk penonton.

Dalam pertunjukan yang digelar komunitas ini semua sekat itu ditiadakan. Penonton boleh merespon langsung pertunjukan begitu juga sebaliknya. Penonton adalah relasi sekaligus menjadi bagian dari peristiwa teater yag sedang berlangsung.

  1. Tindakan

Selama pertunjukan teater berlangsung banyak sekali tersurat nilai, penyadaran, kritik sosial yang diterima penonton. Saat itulah terjadi proses apresiasi teater oleh penonton. Kandungan atau makna apapun yang didapat dari cerita atau lakon yang sudah dipentaskan menjadi sarat makna ketika diapresiasi penonton.

Komunitas Sego Gurih mempunyai pengaruh yang begitu mendalam kepada masyarakat. Hal ini bisa dibuktikan ketika saat pertunjukan belangsung sampai usai. Pengertian teater tidak sebatas pada pertunjukan saja namun peristiwa yang terjadi saat itu. Sebuah pengalaman perjumpaan atau interaksi dengan penonton yang tidak bisa diulang atau direkayasa kembali seperti film. Realitas panggung yang disandingkan dengan realitas penonton dan pelaku pertunjukannya.

Selain itu hal yang paling mendasar bahwa pertunjukan teater tak lain adalah proses berbagi informasi dan pengetahuan. Informasi yang mampu memotivasi secara positif bagi penikmatnya. Informasi dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat akan semakin mampu membangun keberdayaan (Ade Tanesia dkk, 2007:26). Efek yang dirasakan penonton setelah pertunjukan memang diharapkan adalah hiburan yang edukatif. Teater diharapakan mampu memberikan ruang penyadaran sosial dan pendidikan informal. Menonton pertunjukan teater itu proses pembelajaran. Ada narasi kehidupan yang dikemas menjadi pertunjukan. Hal itu dekat dengan masryarakat. Ceritanya pun cukup akrab bahkan sering dialami oleh masyarakat. Teater hanyalah alat bahwa ada proses komunikasi di dunia yang begitu majemuk.

Melalui teater bahwa hidup ini bisa disikapi dengan terbuka, jujur dan berani. Dampak apapun yang langsung dirasakan penonton itulah proses komunikasi teater sesungguhnya. Teater tidak bisa memaksakan penonton untuk patuh terhadap pernyataan atau gagasan pertunjukan. Namun teater memberi cara pandang yang lain melalui hiburan, pendidikan dan interkasi budaya. Hal semacam inilah yang akan terjadi terus di masyarakat pinggiran. Hanya didapati di kota dan desa. Karena Komunitas Sego Gurih akan terus konsisten memberikan tontonan sederhana namun berkualitas. Melalui bahasa Jawa yang sarat dengan nilai, lokalitas dan dialektika dari sekitar kita.

 

KESIMPULAN

Komunitas Sego Gurih mengusung format teater yang berfungsi sebagai media alternatif maupun alat komunikasi informal. Terlepas dipandang sebagai komunikasi tradisional, namun secara penyampaian pesan moral maupun nilai-nilai sosial melalui pertunjukan jadi lebih efektif.

Teater bukan menjadi sebuah tontonan kemudian selesai, namun teater mampu memberikan ruang artikulasi masyarakat untuk menjadi kritis dan giat mencermati kondisi sosial. Komunitas Sego Gurih berani mengajak masyarakat penontonnya untuk tegas dan kritis mencermati sekaligus menanggapi isu-isu sosial di lingkungan sekitar. Hal yang paling penting adalah masyarakat kemudian menjadi sadar secara moral untuk lebih bijaksana menanggapi persoalan yang terjadi di masyarakat.

Diperoleh pengertian komunitas yang mampu menggerakan strategi kebudayaannya melalui peristiwa pertunjukan teater. Masyarakat penonton dipandang sebagai relasi pertunjukan teater yang begitu ekonomis dan strategis. Komunitas Sego Gurih mampu membawa pesan umun yaitu menjadi media komunitas yang berpihak pada persoalan masyarakat yang menyangkut tentang informasi dan pengetahuan. Bahwa informasi dan pengetahuan ternyata mampu dikemas melalui pertunjukan teater. Tidak hanya melalui media mainstream yang sudah ada seperti televisi, radio ataupun jejaring sosial.

Menjadi lebih menarik lagi bahwa dalam penyampaian pesan melalui pertunjukan teater, komunitas ini menggunakan dialog berbahasa Jawa. Bahasa Jawa menjadi alat komunikasi untuk setiap pesan yang ingin disampaikan. Karena bahasa Jawa menjadi lebih tepat sasaran secara informasi. Pesan menjadi mudah dimengerti kemudian dipahami secara langsung oleh penonton. Bahasa Jawa dipandang sebagai bahasa yang mampu mengkomunikasikan kultur secara terbuka dan berani. Bahasa ibu yang cerdas dan spiritual, untuk menanggapi segala hal kondisi ekonomi, sosial, politik dan budaya. Bahasa Jawa menjadi lebih lentur dan fleksibel memberikan pesan-pesan pendidikan, moral, dan kritik sosial lebih langusng tepat mengenai sasaran. Semua yang ingin disampaiakan menjadi spontan dan mengalir selama pertunjukan berlangsung.

Daftar Pustaka

Bungin, Burhan, 2006, Sosiologi Komunikasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Djelantik, A.A,M, 1999, Estetika Sebuah Pengantar, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia & The Ford Foundation, Bandung.

Dahana, Panca, Radhar, 2001, “Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia”, Penerbit IndonesiaTera, Magelang, Jawa Tengah.

Effendy, Uchjana, Onong, 1992, Dinamika Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Gerungan , W.A, 2004, Psikologi Sosial, PT Refika Aditama, Bandung.

Harymawan, RMA, 1988, Dramaturgi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Kayam, Umar, 1998, GAPIT, Taman Budaya Surakarta & The Ford Foundation, Surakarta.

Maryani, Eny, 2011, Media dan Perubahan Sosial, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Mulyana, Dedy, 2009, Ilmu Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Naisaban, Ladislaus, 2004, Para Psikolog Terkemuka Dunia, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Permas, Achsan dkk, 1999, Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan, PPM, Jakarta

Rahmat, Jalaluddin, 2009, Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Raho, Bernard, 2007, Teori Sosiologi Modern, Prestasi Pustakaraya, Jakarta

Rendra, WS, 1984, Mempertimbangkan Tradisi, PT Gramedia, Jakarta.

Riantiarno, Nano, 2003, Menyetuh Teater – Tanya Jawab Seputar Teater Kita, PT HM Sampoerna, Jakarta.

Sahid, Nur, 2008, Sosiologi Teater, Penerbit Prastista, Yogyakarta.

Siregar, Ashadi, 1997, Popularisasi Gaya Hidup Sisi Remaja dalam Komunikasi Massa -Lifestyle Ecstacy, Penerbit Jalasutra, Yogyakarta.

Sutopo, H,B, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Sebelas Maret University Press, Surakarta Jawa Tengah.

Tanesia, Ade, 2007, Media Rakyat – Mengorganisasi Diri Melalui Informasi, Combine Resource Institution, Yogyakarta.

Yudiaryani, 2002, Panggung Teater Dunia – Perkembangan dan Perubahan Konvensi, Pustaka Gondho Suli, Yogyakarta.

 

Komunitas Sego Gurih Blusukan dengan Lakon “Bleg-Bleg Thing”

Pertunjukan kali ini produksi yang ke 25 sejak berdiri pada tahun 1998 (terhitung secara urutan waktu kronologisnya). Lakon Bleg-Bleg Thing ini merupakan karya Komunitas Sego Gurih (KSG) yang ditulis oleh Yusuf Peci Miring. Salah satu pemain yang kini mulai berproses secara serius untuk menciptakan lakon dengan mandiri. Produksi pertunjukan ini menjadi bagian dari kerja sama dengan beberapa teman dari komunitas otomotif yaitu JHC Yogyakarta (Jogja Honda Classic). Rekanan secara komunitas ini yang kemudian membuka jalan untuk KSG kembali “blusukan” ke desa/kampung menggelar pertunjukan. Pertunjukan dimulai secara berurutan, di mulai pada Sabtu 9 April 2011 di Dusun Karangber Goasari Pajangan Bantul, 11 April 2011 di Sanggar Bunga Padi Dobangsan Giripeni Wates, 14 April 2011 di Dusun Mangiran Trimurti Srandakan Bantul, 17 April 2011 di Dusun Kweni RT 06 Panggungharo Sewon Bantul. Di sini akan dipaparkan satu persatu peristiwa pertunjukan yang sudah berlangsung. Uraiannya sebagai berikut :

Dusun Karangber Goasari Pajangan Bantul DIY

Sore menjelang malam Dusun Karangber terlihat begitu ramai. Beberapa warga masyarakat seperti layaknya mempersiapkan sebuah perhelatan. Tepat di halaman rumah depan Mas Klinting (teman JHC yang menyediakan tempat pertunjukan) begitu riuh. Anak-anak kecil berlarian melihat lampu terpasang di sela-sela pohon bambu, ada juga kabel yang membentang dari pohon satu ke pohon yang lain. Semua nampak biasa saja, halaman luas itu di setting menjadi sebuah ruang untuk pertunjukan. Merespon lingkungan sekitar dengan memperlakukan semuanya sehingga menjadi dekorasi alamiah.

Pertunjukan sesuai undangan akan dimulai 19.30 wib. Undangan disebar oleh beberapa teman karang taruna pemuda Dusun Karangber. Kami menemukan salah satu undangan lalu kami baca cukup membuat geli. Undangan tersebut berbunyi demikian “mengharap kehadiran Bapak / saudara / i pada pertemuan yang akan diselenggarakan pada :

Hari : Sabtu, 9 April 2011

Pukul : 19.30 – selesai

Tempat : Rumah Bapak Rozan

Acara : Pentas drama / wayang wong

Satu yang membuat kami spontan tertawa saat itu dengan membaca kata ‘pentas drama / wayang wong’. Itulah istilah yang kemudian mereka nilaikan untuk KSG. Masyarkat yang kemudian banyak cara untuk membahaskan sebuah tontonan tiban seperti komunitas seni milik kami. Menurut hematnya sah-sah saja, karena itulah masyarakat yang mungkin salah satunya masih asing dengan istilah teater. Kami tidak perlu mempersoalkan itu, dan kami juga tidak berhak menyalahkan. Biarkan saja.

Semua pemain setelah selesai make up lalu mencoba garis laku menyesuaikan keadaan di lapangan. Karena biasa terjadi apa yang sudah dilatihkan selama berbulan-bulan, kadang akan meleset jauh dari perkiraan keadaan di lapangan. Orientasi kami lakukan guna untuk mengatur hal-hal teknis seperti keluar masuk tokoh yang kaitannya dengan kondisi setting alamiah itu. Ditambah lagi untuk menyesuaikan logika panggung dan realitas panggung berikut atmosfer lingkungan sekitar.

Jam menunjukan pukul 19.15 wib, Mas Klinthing memberitahukan bahwa warga dusun tidak jadi menampilkan kesenian Hadrah. Dikarenakan mereka mempunyai tradisi jika menampilkan kesenian tersebut biasanya melantunkan puji-pujian sepanjang ayat kitab suci. Jadi jika hanya persoalan waktu yang disediakan panitia dirasa kurang cukup mengakomodasi kesenian Hadrah tersebut. Kesenian Hadrah tadi dimaksudkan sebagi pembuka acara sebelum masuk ke pertunjukan Bleg-Bleg Thing. Namun karena persoalan tradisi lantunan pujian Hadrah harus satu kitab selesai kami harus memaklumi itu. Inilah nilai tradisi masyarkat yang harus kami hormati. Kami tak berhak memaksakan sebuah tampilan dengan memangkas bagian inti yang tersurat ataupun tersirat demi kebutuhan tontonan. Kompromi selesai dilakukan semua akhirnya bisa memahami bersama secara kekeluargaan.

Pertunjukan dimulai jam 20.00 wib dibuka dengan aksi sulap oleh rekanan KSG yaitu Santo. Santo tampil saat malam agak gerimis, ia berdandan serba hitam dengan goresan eye liner mengesankan seorang magician profesional. Sesekali terlontar kalimat dengan bahasa inggris untuk menambah varian dialog interkatif bersama penonton. Santo cukup bisa membawa suasana sangat bersahabat dan mampu melibatkan beberapa warga sebagai bagian dari aksi sulapnya. Dua aksi sulap yang ditampilkan Santo, lalu di susul kemudian Pepok membuka pertunjukan sebagai MC.

Adegan dimulai dengan beberapa tokoh bocah 1,2,3 dan 4 bermain benthik (permainan tradisional Jawa). Sebelum bermain mereka melantunkan lagi yang di iiringi oleh pemusik yaitu ada Katrok, Iwang, Bagya, Wisnu dan Jipna. Alat yang digunakan seperti kendang, saron laras diatonis dan suling. Lagu yang dinyanyikan sebagai theme song pertunjukan malam itu sebagai berikut :

Aku nduwe dolanan sing lucu, perahu cilik tak kelek ke banyu, sesok gedhe dadi tukang perahu bayarane satu sewidak ewu. Lagu ini dirasa cukupmembuka adegan awal yang cukup riang dan bersemangat.

Munculah sosok tokoh bernama Sae (Ali As’ad) dengan menggendong kandang merpati. Sambil membawa barbel dari kaleng bekas yang dicor semen untuk angkat besi. Menirukan gaya seorang atlet angkat besi, pada bagian tertentu Sae beraksi dengan gesture pantomime. Seolah meyakinkan penonton dengan adegan bisu bercampur gerak tubuh yang begitu lentur. Adegan tersebut menjadi hidup ketika Lik Seni (Rendra Bagus) masuk dalam percaturan dialog yang membahas masalah profesi sehari-hari. Ditambah masuknya Jarno Gaet (Andi Pepok) sebagai pemuda berprofesi sebagai guide yang begitu yakin dengan dirinya, karena merasa orang yang paling tau pendidikan dibanding yang lain.

Ketiga tokoh ini yang menggiring persoalan kenapa pendidikan begitu penting untuk terus ditanggapi dan dikritisi. Apalagi diperkuat oleh Yu Siti (Teteh) seorang bakul tenong yang menjadikan dialog masalah pendidikan itu semakin mengkerucut tajam. Sebagai babak kedua bocah 1, 2, 3, dan 4 muncul layaknya bocah yang begitu senangnya menikmati dunianya dengan permainan tradisional. Mereka keluar dengan melantunkan lagu : baris rampak sing urut kacang, keplok-keplok-keplok, tangan lembeyan diulang dua kali ditambah dengan gerak tubuh yang begitu menggambarkan ciri khas seorang bocah sedang bermain. Lantunan lagu ditambah lagi dengan theme song “Aku nduwe dolanan sing lucu, perahu cilik tak kelek ke banyu, sesok gedhe dadi tukang perahu bayarane satu sewidak ewu”. Permainan yang mereka lakukan yaitu delikan / wilwo (jawil tuwo). Adegan ini cukup membawa tawa riang anak-anak dusun, karena seperti menikmati dunia mereka sendiri.

Adegan permainan bocah-bocah ini disambut dengan Jasmani (Wawan) seorang pemuda yang bergaya mirip anak kota. Keluar dengan dandanan trendi lengkap dengan earphone ditelinganya sambil menyanyikan lagu-lagu pop. Gambaran pemuda tanggung pengangguran yang tak jelas kegiatannya. Jasmani di babak ini merangkai konfliknya dengan Mak Nah (Dita) seorang wanita tua yang keluar dari rumah hanya menggunakan kotang dibalut kain jarik (kemben) sekaligus wajah putih (bobok : masker tradisional jawa yang berasal dari beras ditumbuk). Babak ini menjadi varian dialog yang begitu cair karena hadir ditengah permainan bocah-bocah. Menjadi bagian kerumitan / komplikasi jalinan kejadian (lihat Gustav Freytag).

Kembali di tengah asiknya permainan bocah-bocah munculah Mak Girah (Widya) yang ribut mencari salah satu anaknya bernama Bardin. Tokoh imajiner yang menjadi pemicu persoalan kenapa Bardin pergi dan tidak pulang lantas dinyatakan hilang. Hilangnya Bardin lalu dikaitan dengan mitos Den Baguse Endro, seorang penunggu jembatan dekat sungai. Mitos ini selalu dikuatkan ketika dalam cerita Den Baguse Endro sering sekali menjegal orang kemudian tercebur ke sungai. (mitos Den Baguse Endro ini diambil dari kampung Sagan – Iromejan. Menurut informasinya mitos Den Baguse Endro itu sesosok roh halus penunggu jembatan yang menjadi perbatasan kampung Sagan Wetan dengan Iromejan).

Mitos ini semakin diperkuat dengan upacara Bleg-Bleg Thing yang di pimpin oleh Mbah Dukuh Dongkol (Sawito). Ritual ini dilakukan dengan keliling kampung mencari orang hilang, diakhiri dengan memanjatkan doa disekitar dapuran pring (pohon bambu yang menggerombol). Dalam upacara diikuti oleh Pak Turah (Elyandra) dan Jono Kethek (Kadir) beserta tokoh yang lain yang sudah muncul di adegan awal. Ritual ini semakin menguatkan masyarakat bahwa kekuatan mitos itu masih dipelihara dengan rapi disetiap jaman. Dalam ritual ini Mbah Dukuh Dongkol melantunkan tembang Pangkur “singgah-singgah kala singgah, pansuminggah durgakala sumingkir, singa hama singa wulu, lansuku singa sirah, singa tenggak miwah kala singa buntu, padha sira suminggaha, muliha ning asal neki”. Adegan ini cukup menggiring penonton untuk mengepung semua pemain di sekitar dapuran pring menjadi peristiwa ritual yang benar-benar khusuk.

Peristiwa menjadi semakin menegang secara dramatic, ketika jenazah Bardin dikabarkan ketemu di dekat jembatan dimana Den Baguse Endro menganggu. Penonton serasa ikut hanyut dalam adegan ini. Kebingungan antara beberpa tokoh membuat suasana tergiring pada atmosfir yang serba kalut. Ditambah menjelang ending cerita ketika kabar dimana pohon sukun itu runtuh dimana Bardin terakhir bermain bersama bocah yang lain. Pohon sukun ini menjadi penanda kepergian Bardin pertama kali, karena waktu delikan itu ditemukan sandal Bardin dibawah pohon sukun itu.

Suasana akhir adegan tampak semakin larut, penonton diam sesaat dan tampak sepi tanpa suara. Padahal dari awal penonton cukup cair mengikuti adegan itu. Dialog kedua tokoh yang dituakan setelah Mbah Dukuh Dongkol,

Lik Seni : iki sasmitane opo Pakde ?

Pak Turah : iki pancen sasmitane..

Menjadi titik dimana penonton kembali dibenturkan dengan tanda dan mitos yang bercampur dengan logika. Logika menyikapi kematian Bardin. Inilah puncak akhir dari pertunjukan di Dusun Karangber Goasari Pajangan. Pemain semua keluar memberikan hormat dan menyanyikan bersama lagi theme song awal untuk mengakhiri pertunjukan.

Sanggar Bunga Padi Dusun Dobangsan Giripeni Wates DIY

Sore itu rombongan pemain dan tim setting datang ke lokasi sekitar jam 16.15 wib. Kami datang melihat lokasi masih sepi hanya terlihat Mas Agung (pemilik Sanggar Bungapadi) hanya ditemani tetangganya memasang tikar, dan mempersiapkan peralatan sound untuk pertunjukan nanti malam. Karena dari pagi hujan turun di sekitar Yogyakarta, menyebabkan kontur tanah disekitar tempat pementasan menjadi berair dan menggenang (nglendut). Yusuf Peci Miring (sutradara), Beni Susilo, Ujang (penata setting) dan Dwi Vian (penata lampu) segera bergegas membuat plot blocking dan beberapa titik lampu. Mereka berempat berdiskusi dibawah pohon sawo di depan rumah joglo limasan.

Di tempat terpisah beberapa pemain sudah mulai menyiapkan diri untuk dirias. Ruangan itu semacam garasi yang disulap menjadi sebuah sanggar. Rencananya malam itu akan melibatkan juga beberapa pertunjukan dari anak-anak Sanggar Bunga Padi. Maka saat Dhani Brain (penata rias) melakukan make up, beberapa terlihat anak-anak sedang menyaksikan proses rias para pemain. Setelah semua pemain selesai make up, kemudian pemasangan lampu juga selesai. Pemain keluar dari garasi tadi, lalu kami melihat si pemilik rumah mendatangkan truk berisi pasir. Diturunkannya pasir tersebut didekat pendapa limasan itu. Ternyata pasir tersebut digunakan untuk meratakan tanah yang tampak bergenang air supaya tidak membuat tanah gembur.

Menjelang jam 19.00 wib pendapa yang sudah digelar tikar mulai dipadati para masyarakat sekitar dusun. Mereka terdiri dari para orang tua, sesepuh desa sampai dengan anak-anak. Tampak pula beberapa anak sedang merias diri mereka dengan mengenakan kostum yang akan mereka tampilkan. Malam itu selain Sanggar Bunga Padi yang tampil ada juga sanggar lain dari dusun sebelah dan sanggar anak-anak dari Radio Abata FM.

Penampilan pertama dibuka oleh Sanggar Bunga Padi dan anak-anak dari sanggar lain. Keramaian malam dan sorotan lampu menjadi sinyal sekitar dusun untuk semakin berbondong-bondong dan mendekat ke pendapa limasan milik Mas Agung. Hadir pula beberapa tokoh masyarakat setempat, wartawan Kedaulatan Rakyat biro Kulon Progo, Nanang Hidayat (pengajar Jurusan Televisi Fakultas Media Rekam ISI Yogyakarta) bersama Krisna Murti (seniman video art).

Pementasan ini pada awal adegan Sae, Lik Seni, Jarno Gaet dan Yu Siti masuklah (pemilik sanggar) untuk meng cut permainan untuk masuk pada sesi perkenalan balon Bupati Kulonprogo. Bagi kami ini adalah noise, bukan bagian elemen estetika. Diluar dugaan yang kompromis perkenalan dilakukan sebagai acara di dalam acara. Kami pun sebagai penyuguh tontonan tak bisa mengelak atas permintaan mendadak itu. Namun ini menjadi pelajaran penting bahwasanya praksis politik lokal itu kadangkala tidak logis. Asas pemanfaatan yang tidak menguntungkan secara esetetis dan proses pendidikan dasar demokratis (yang sesungguhnya). Padahal dalam perkenalan balon bupati tersebut hanya membagikan buku tentang kesehatan terkhusus kebidanan. Kalau hanya mau membagikan buku sebenarnya tak perlu sampai senarsis itu. Tak perlu “menunggangi” ruang kepentingan estetika komunitas kami. Ini jelas diluar tema pendidikan seperti yang diusung dalam lakon Bleg-Bleg Thing. Tapi inilah fakta bagian proses pembodohan massal. Haleluya.

Pementasan ini dirasa gagal secara estetika dan dramatisasi pengadeganan secara menyeluruh pertunjukan. Karena cuaca juga malam itu hujan deras jadi halaman panggung yang sudah di setting untuk adegan terpaksa tidak dipakai. Semua adegan berlangsung di dalam pendapa yang dimana itu tempat penonton. Jarak yang diambil akhirnya terlalu dekat dengan penonton tanpa jarak. Artistik yang dipakai hanyalah penataan cahaya untuk kebutuhan pembagian ruang antara pemain dan penonton.

Mulai babak dua sampai dengan akhir dilakukan dalam pendapa, itu diluar perhitungan estetika. Inilah pelajaran berharga dari suatu kasus tidak diduga sebelumnya. Karakteristik kampung berikut masyarakatnya yang terus harus dibaca. Kembali lagi kami belajar bagaimana proses mengorganisasi massa. Pendekatan yang lebih bisa persuasif lagi dan mengandalkan fakta lapangan itu bagi kami jauh lebih obyektif sekaligus mendidik. Secara mental untuk kami lebih bisa bekerja secara komunitas lebih maksimal lagi.

Dusun Mangiran Trimurti Srandakan Bantul DIY

Rombongan berangkat menggunakan bis kampus ISI Yogyakarta. Kami berangkat sudah jam 15.00 wib lebih. Ada bebrerapa teman khusunya penata cahaya berangkat menyusul karena persoalan studi. Ketika kami sudah sampai lokasi, semua barang dan alat pertunjukan diturunkan lalu mulailah dengan mapping lokasi. Lokasi tersebut terdapat pendapa tua yang sudah tak terurus lagi secara kebersihannya. Yusuf, Mas Beni Susilo dan beberapa teman mulai mendekati ruang untuk menata setting dan kebutuhan teknis pementasan. Lampu sudah di tata dibeberapa pohon, ada beberapa lampu di ikat dengan bambu (cagak).

Beberapa pemain mulai merias dibagian teras samping rumah si pemilik pendapa tersebut. Ketika jam 17.00 wib lebih teman pemusik (Katrok) dan penata lampu (Dwi Vian) datang, disusul kemudian dengan Dodi sebagai kameramen pertunjukan. Setelah selesai make up pemain sutradara dan pemain menempatkan diri untuk orientasi panggung menyangkut kebutuhan cahaya sekaligus blocking.

Pendapa saat itu digelar tikar untuk penonton dan bagian belakang untuk pemusik. Dibagian pojok depan dipakai untuk penata lampu. Sebagian tikar digelar di haaman depan pendapa dan ruas sebelah selatan dibawah pohon jambu. Ada bagian tikar yang digelar dekat teras yang berhimpitan dengan garasi tuan rumah.

Sesudah magrib, warga mulai mendekat ke tempat pertunjukan sebagian anak-anak sudah mulai menempati tikar. Sebab pertunjukan tersebut sudah diumumkan di desa dan sebagai pemicu datangnya penonton, Mas Indri memutar lagu kuntulan dan jathilan melalui mp3 dengan volume yang keras. Cukup dirasa ampuh karena bisa mendatangkan penonton untuk kemudian mendekat dan segera merapat ke tikar.

Pertunjukan malam itu dibuka dengan penampilan oleh salah satu warga setempat. Seorang gadis remaja yang membawakan tari tradisional. Mereka berdua adalah anak didik dari Bapak Waskito salah seorang penggerak seni tradisional dari Dusun Mangiran. Keduanya adalah mahasiswa jurusan tari dari Universitas Negeri Yogyakarta. Dua repertoar ditampilkan sekaligus,pembawa acara malam itu ditangani oleh salah satu pemain berpotensial yaitu Andi Pepok.

Pertunjukan Bleg-Bleg Thing dimulai dengan semakin bermunculannya warga dusun sekitar yang mulai berdatangan. Keramaian dengan lagu-lagu yang dinyanyikan pemain di adegan awal dirasa cukup komunikatif untuk mengundang warga yang lainnya berdatangan menyusul. Merapat ke tikar tempat penonton dan memenuhi sebagian pendapa. Babak awal munculnya Sae, Lik Seni, dan Jarno Gaet cukup interaktif bersama penonton. Karena dialog mereka bertiga terjadi di pinggir (tritisan) pendapa. Di pinggiran tersebut ada seorang warga yang duduk asik menonton. Diresponlah warga tersebut untuk masuk ke dalam cerita. Di sisi yang lain terdapat wanita sepuh yang duduk didekat pohon palem di pojokan pendapa. Nenek tersebut juga tak luput dari “serangan” interaktif dari dialog para pemain. Suasana di babak awal semakin segar saja, cukup renyah dan mengundang tawa.

Pertunjukan di Dusun Mangiran ini lebih banyak merespon kepada para penonton yang hadir. Setelah adegan awal yang terjadi bersama penonton, ada pula di adegan Jasmani yang muncul dengan nyanyian lagu pop berjudul “Ooo kamu Ketauan” yang populer dinyanyikan oleh Mata Band. Jasmani (Wawan) masuk dengan nyanyian tersebut dengan di iringi oleh kendang dan saron. Ditengah lagu Jasamani menarik salah satu penonton cewek untuk diajak berjoget di area pertunjukan. Pas di depan tiang jemuran bambu. Adegan ini berlangsung cukup natural serasa interaksi yang biasa terjadi ditengah pentas panggung musik.

Babak demi babak berjalan sangat cair, apalagi ditambah ketika Jono Kethek (Kadir) membuka wig nya pada adegan percakapan yang dramtiknya sudah cukup genting. Adegan itu justru melunak dan mencair seketika. Penonton waktu itu tidak beranjak sampai dengan akhir adegan. Meski beberpa bagian disebelah selatan pendapa beberapa warga mulai berangsur pulang. Anak-anak kecil tetap tak beranjak di lesehan paling depan, merekalah yang menjadi senjata paling komunikatif di setiap peristiwa naskah. Dengan begitu kami sebagai kelompok cukup yakin ketika yang dihadapi adalah penonton yang dominasinya masih anak-anak. Toh mereka juga bagian massa teater kami, sandiwara ini juga milik mereka. Anak-anak berhak untuk ikut ambil bagian ditengah keramaian pesta perayaan ini.

Dusun Kweni Sewon Bantul DIY

Dusun menjadi pilihan terakhir putaran pertunjukan kami. Jaraknya cukup dekat dengan perkotan Jogjakarta sebelah selatan yang berbatasan dengan Bantul. Jarak dengan kampus ISI Yogyakarta pun tak terlalu jauh. Kami sempat memperkirakan bahwa Dusun Kweni menjadi “jujukan” para seniman, akademisi dan rekan sejawat massa teater kota untuk mendatangi pertunjukan kami.

Lokasi yang kami pilih tepat disebelah timur masjid di Dusun Kweni. Tepatnya dibekas rumah yang runtuh terimbas gempa tahun 2006. Rumah tersebut mungkin dahulunya berbentuk pendapa atau limasan karena terlihat bekas ompak (penyangga saka guru). Disebelah barat rumah terdapat kandang sapi yang sudah usang, hanyamenjadi tempat penyimpanan kayu glugu. Sebelah timur rumah terdapat sumur dan kamar mandi. Kamar mandi sudah runtuh, sementara sumur masih berfungsi dengan baik. Lengkap dengan timba dan genthong untuk air wudlu.

Magrib menjelang sebagian pemain masih merias wajah di salah satu rumah warga yang letaknya dari lokasi pementasan hanya berdampingan. Kami mendapat informasi bahwa jam 19.00 bertepatan hari yang sama ada pengajian ibu-ibu. Kami sempat panik, namun diputuskan bahwa pementasan tetap mulai setelah pengajian selesai.

Lampu setting mulai menerangi sekitar lokasi pertunjukan. Pengajian pun akhirnya usai. Semua meringsek ke depan dan kami dikepung penonton dengan bentuk “letter L”. Inilah ketidak sengajaan yang kemudian diluar kuasa kami sebagai penyaji pertunjukan. Bahwa segala kemungkina bisa saja terjadi dengan spontan. Huruf L yang dibentuk oleh penonton secara natural itu mungkin semacam ilmu bagi kami bahwa bentuk panggung dalam teater lingkungan tidak bisa berjalan kaku dan baku. Semua bias saja berubah sesuai situasi dan kondisi peristiwanya. Pelajaran bagi kami bahwa inilah ilmu yang kami dapat, yang belum tentu bisa didapatkan di dunia teater akademisi. Teater lingkungan ya begitulah proses terjadinya, itu diluar naturalisasi yang sengaja sudah kami siapkan. Semua berjalan dengan sewajarnya saja.

Adegan ini dilokasi ini berjalan hampir sama di Dusun Pajangan, namun pemain cukup menemukan atmosfer permainan yang begitu hidup di dekat sumur. Seolah energi itu ada bahwa secara peristiwa lakon ini memang mendapatkan tempatnya yang pas menurut kami. Didukung pencahayaan yang begitu lunak dan warna general. Kami sempat heran juga setelah ibu-ibu pulang dari pengajian mereka justru mampir di pertunjukan kami. Mereka menyempatkan meski ada yang hanya melirik sebentar, ada yang kemudian duduk di tikar, ada yang mulai mencari tempat duduk paling nyaman untuk menonton. Itulah peristiwa yang luar biasa sekali.

Semua adegan berjalan sebegitu cair. Pemain tanpa beban melantukan dialog dengan tetap berusaha komunikatif bersama penonton. Malam itu sepeda, genthong tempat wudlu, bulan, jemuran milik warga, tumpukan ranting kering semua mampu direspon menjadi properti dan setting yang nampak murni. Pemain hanya memberikan sentuhan melalui respon dan dialog semua tampak menjadi bernyawa. Malam itu disekian penonton tampak seniman Heru Kesawa Murti, Ikun SK, Kusen Alipah Hadi dan Yohanes Siyamta seorang penulis sastra jawa mutakhir yang senantiasa mengikuti pentas kami beberapa tahun terakhir.

Inilah perayaan dan peristiwa kami. Kami hanya berusaha menyuguhkan lakon yang cukup representative untuk masyarakat dengan konteks dan isu yang sangat sederhana. Isu pendidikan kami bidik kemudian dijadikan tanggapan bersama penonton. Kadang kami mengumpani kadang pula justru kita yang dipancing penonton untuk saling menanggapi dengan seksama. Inilah sandiwara yang kami kelilingkan ke desa-desa, blusukan mencari ruang-ruang strategis namun artikulatif. Semangat pertunjukan kerakyatan yang kami usung bahwa teater itu milik siapa saja. Teater butuh dukungan massa dimanapun, khususnya pedesaan mereka relasi yang sangat social dan ekonomis. Akhirnya Komunitas Sego Gurih ini semakin yakin bahwa bahasa Jawa menjadi kekuatan otentik baik secara identitas maupun strategi kultural. Semoga kami semakin gurih dan renyah di mata penonton semua kalangan masyarakat teater dimanapun. Salam Segogurih, sandiwara merdeka dengan bahasa Jawa.

 

Elyandra Widharta, pertengahan Mei 2011. Diwaktu kami sedang rehat sejenak seusai pementasan keliling.

Foto Pertunjukan Bleg-Bleg Thing

Dusun Pajangan Bantul Yogyakarta

Image

Dusun Giripeni Dobangsan Kulon Progo 

Image

Image

Image

Image

Dusun Mangiran Bantul Yogyakarta

Image

Image

Image

Image

Sinopsis

Pada sebuah kampung yang sumpek dengan berbagai macam komunitas penduduk didalamnya telah berkembang lama mitos tentang makluk halus yang oleh warga kampung di beri julukan Den Baguse Endro. Sosok ”demit” satu ini telah mengiringi perjalanan kampung sejak dulu dan tidak ada yang dapat menceritakan asal-muasalnya. Den baguse Endro terkenal senang mengganggu penduduk, seperti mengganggu anak kecil, memerosokkan pengendara kedalam selokan, mengganggu orang yang baru tingga dikampung tersebut. Inilah kenyentrikan den Baguse Endro. Setelah sekian lama tidak mengganggu warga, suatu hari seorang pedagang bakso keliling harus menanggung akibat kejailan den baguse endro. Dia harus terjerembab masuk selokan ”badeg” yang ada dikampung tersebut. Namun yang lebih mengejutkan adalah hilangnya salah satu warga yakni seorang bocah belasan tahun yang diduga disembunyikan oleh Den Baguse Endro. Mulanya beberapa anak bermain petak umpet namun salah satu dari anak yang bermain tidak kembali ketika bersembunyi di pohon Sukun nama anak tersebut adalah Bardin. Warga kampung yang tidak dapat menemukan anak tersebut langsung menuduh Den Baguse Endro biang dari hilangnya Bardin. Pak Turah seorang warga kampung mengungkapkan,bahwa mak Girah ibu Bardin pernah mengeluhkan anaknya minta sekolah SMP naumun dia tidak meyanggupi karena tidak memiliki biaya. Kemudian warga berinisiatif untuk mengadakan upacara bleg-bleg thing, sebuah upacara yang digunakan untuk mencari orang hgilang di pedalaman jawa. Tetua kampung Mbah Dukuh Dongkol mengungkapkan bahwa Bardin akan segera ditemukan tidak lama lagi. Ucapan Dukuh Dongkol terbukti nyata, Bardin diketemukan namun dalam keadaan meninggal. Jarni gaet yang sedari awal selalu membicarakan tentang pendidikan tidak mempercayai kalau Bardin mati karena ”Demit”, namun dia percaya kalau Bardin mati karena bunuh diri…………………

Foto Pertunjukan “Sedulur Mulur Tangga Eca” 2012

Dusun Sanden 31 Desember 2011 dalam De-Kampoeng Festival

Image

Image

Image

Image

(fotografer : Panitia De-Kampoeng Festival 2011)

Lapangan Pasir Kampung Tungkak RW 21 Yogyakarta

Image

Image

Image

(fotografer : Krisna Mulawarman 2012)

Image

(fotografer : Mas Towil 2012)

Sinopsis

Lakon ini di adaptasi dari Malam Jahanam karya Motinggo Busye. Setting naskah sendiri yang beralur plot linier ini merepresentasikan kehidupan margin di sekitar pesisir Sumatra. Namun dalam hal ini di adaptasi bebas oleh Wage Daksinarga ke dalam kultur Jawa pinggiran kota urban.

Suleman (Ibnu Gundul) seorang laki-laki yang kebetulan bertetangga dengan Kusnan (Riyanto), teman sejak masih kecil. Paijah (Nurul Jamilah) istri Kusnan ternyata mempunyai anak hasil dari hubungan biologisnya dengan Suleman. Perselingkuhan ini berjalan cukup rapi dan bertahan lama. Namun suatu ketika konflik muncul ketika Kusnan mendapati burung peliharaannya mati dan dibuang di pinggir sumur. Burung kebanggaan Kusnan, burung yang mahal, seolah hewan peliharaan yang tak tergantikan oleh apapun.

Informasi matinya burung peliharaan itu disampaikan Jamingan (Lukas Priyo) seorang yang gila. Dan itu terbukti ketika persoalan memuncak dan Suleman mengaku bahwa yang membunuh burung tersebut.

Dalam babak lain muncul Pak Sapar (Elyandra Widharta) dan Joko (Gilar) sebagai tokoh dengan motif untuk peralihan dinamika dramatik yang cukup segar dan menggemaskan.

Tinjauan Strukturalisme Genetik terhadap Lakon “BLEG-BLEG THING” oleh Dwi Vian

Latar Belakang Masalah

Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman, pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya sendiri, dan masyarakat

Strukturalisme genetik (genetic structuralism) adalah cabang penelitian sastra secara struktural yang tak murni. Ini merupakan bentuk penggabungan antara struktural dengan metode penelitian sebelumnya. Konvergensi (keadaan menuju satu titik pertemuan) penelitian struktural dengan penelitian yang memperhatikan aspek-aspek eksternal sastra, dimungkinkan lebih demokrat (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 55).

Secara definitif Goldmann (1977:25) menjelaskan pandangan dunia sebagai ekspresi psikologis melalui hubungan dialektis, kolektifitas tertentu dengan lingkungan sosial dan fisik, dan terjadi dalam periode bersejarah yang panjang. Pandangan dunia dipermasalahkan dalam berbagai disiplin, dan dengan sendirinya dengan definisi yang berbeda-beda. Pandangan dunia sebagaimana dimaksudkan dalam karya satra, khusunya menurut visi strukturalisme genetik, berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan kolektifitas tertentu. .

Drama, yang dalam hal ini adalah salah satu genre dari karya sastra, juga merupakan refleksi pemikiran menyangkut masalah sosial, budaya, politik, dan agama dari pengarang yang dikemas dengan artistik dan metaforis. Drama yang sebenarnya faktor sosial apa yang menjadikan naskah drama tersebut dibuat.

Berangkat dari teori struktural ganetik tersebut, kami tertarik untuk mengkaji naskash drama “BLEG-BLEG THING” Karya Yusuf Peci Miring . Ada hal menarik yang kami lihat dari naskah ini, kerena naskah ini berlatar kehidupan di kampung pinggiran kota.

Pandangan dunia pengarang yang tertuang dalam naskah ini patut untuk diketahui, sejauh mana gambarannya. Di samping itu, faktor sosial budaya dan latar belakang (genetika) apakah yang membuat pengarang melahirkan naskah ini. Hal ini perlu diketahui karena bagaimanapun pengarang pasti punya landasan kuat dan argumen dalam kapasitasnya sebagai salah satu individu kolektif yang merasakan dan mengetahui problem-problem yang dialami oleh kaum miskin.

Naskah drama “BLEG-BLEG THING” Karya Yusuf Peci Miring, merupakan jenis naskah tragedi komedi karena dilihat dari prinsip-prinsipnya yaitu konyolnya para tokoh dalam naskah ini , ceritanya juga konyol dan menghibur namun sarat krtitik sosial.

Naskah ini bercerita masyarakat kecil yang tersingkir, hidup seperti belatung di comberan bau bacin. Mereka yang hanya bisa menatap bulan, memandang kemewahan dari balik etalase toko. Mereka yang dianggap najis, sumber maksiat, dan tanpa moral. Mereka yang selalu dilukai dan tak sanggup membalas, apalagi melukai.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah struktur intrinsik naskah “BLEG-BLEG THING” ?

  2. Bagaimana genetika naskah “BLEG-BLEG THING” (sejauh mana latar belakang pengarang dan struktur sosial budaya masyarakat yang diceritakan dapat mempengaruhi penciptaan naskah ““BLEG-BLEG THING” ) ?

  3. Bagaimana pandangan dunia pengarang dan subjek kolektifnya yang terdapat dalam naskah “BLEG-BLEG THING” ?

  4. Bagaimana teknik pemanggungan yang sesuai dengan naskah “BLEG-BLEG THING” ?

1.4 Tujuan kajian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan struktur intrinsik naskah “BLEG-BLEG THING”.

2. Mendeskripsikan genetika “BLEG-BLEG THING”.

  1. Mendeskripsikan pandangan dunia pengarang dan subjek kolektifnya.

  2. Mendeskripsikan teknik pemanggungan.

PEMBAHASAN

(Teori dan Kajian Strukturalisme Genetik)

A. Sejarah dan Prinsip Dasar Strukturalisme Genetik

Strukturalisme genetik (genetic structuralism) adalah cabang penelitian sastra secara struktural yang tak murni. Ini merupakan bentuk penggabungan antara structural dengan metode penelitian sebelumnya. Konvergensi penelitian struktural dengan penelitian yang memperhatikan aspek-aspek eksternal sastra, dimungkinkan lebih demokrat (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 55).

Orang yang dianggap sebagai peletak dasar mahzab genetik adalah Hippolyte Taine (1766-1817), seorang kritikus dan sejarawan Perancis (Zainuddin Fananie, Telaah Sastra, UMS, 2001 : 116). Penelitian strukturalisme genetik semula dikembangkan di Perancia atas jasa Lucien Goldmann. Bagi Goldmann, studi strukturalisme genetik memiliki dua kerangka besar. Pertama, hubungan antar makna suatu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu karya sastra yang sama. Kedua, hubungan tersebut membentuk suatu jaringan yang saling mengikat.

Penelitian strukturalisme genetik, memandang karya sastra dari dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dari kajian unsur intrinsik (kesatuan dan koherensinya) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur dengan realitas masyarakat. Karya dipandang sebagai sebuah refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dsb. Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 55).

Strukturalisme genetik adalah sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi pendekatan strukturalisme murni yang anti historis dan kausal. Pendekatan strukturalisme juga dinamakan sebagai pendekatan objektif. Menyikapi yang demikian, Iswanto pernah mengutip pendapat Juhl (2001: 62) penafsiran terhadap karya sastra yang menafikan pengarang sebagai pemberi makna sangat berbahaya pemberian makna, karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas , kepribadian, cita-cita dan juga norma-norma yang dianut oleh pengarang. Secara gradual dapat dikatakan bahwa jika penafsiran itu menghilangkan pengarang dengan segala eksistensinya di dalam jajaran signifikan penafsiran. Objektifitas penafsiran sebuah karya sastra akan diragukan lagi karena memberi kemungkinan lebih besar terhadap campur tangan pembaca di dalam penafsiran karya sastra.

Goldmann memberikan rumusan penelitian strukturalisme genetik ke dalam tiga hal, yaitu (1) penelitian terhadap karya sastra seharusnya dilihat sebagai kesatuan, (2) karya sastra yang diteliti semestinya karya yang bernilai sastra yaitu karya yang mengadung tegangan (tension) antara keragaman dan kesatuan dalam suatu keseluruhan, (3) jika kesatuan telah ditemukan, kemudian dianalisis dalam hubungannya dengan latar belakang sosial. Sifat hubungan tersebut : (a) yang berhubungan latar belakang sosial adalah unsur kesatuan, (b) latar belakang yang dimaksud adalah pandangan dunia suatu kelompok sosial yang dilahirkan oleh pengarang sehingga hal tersebut dapat dikonkretkan (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 57).

B. Teori Strukturalisme Genetik

Strukturalisme Genetik memiliki implikasi yang lebih luas dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu-ulmu kemanusiaan pada umumnya. Secara definisi Strukturalisme Genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya. Secara ringkas berarti bahwa strukturalisme genetik sekaligus memberikan perhatian terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik. Pandangan dunia merupakan masalah pokok dalam strukturalisme genetik.

Secara definitig Goldmann (1977:25) menjelaskan pandangan dunia sebagai ekspresi psike melalui hubungan dialektis, kolektifitas tertentu dengan lingkungan sosial dan fisik, dan terjadi dalam periode bersejarah yang panjang. Pandangan dunia dipermasalahkan dalam berbagai disiplin, dan dengan sendirinya dengan definisi yang berbeda-beda. Pandangan dunia sebagaimana dimaksudkan dalam karya satra, khusunya menurut visi strukturalisme genetic, berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan kolektifitas tertentu.

Secara metodologis, dalam strukturalisme genetik Goldmann menyarankan untuk menganalisis karya satra yang besar, bahkan supra karya. Semata-mata dalam karya yang besar peneliti secara bebas memasuki wilayah kehidupan, ruang-ruang kosong sebagaimana disajikan oleh pengarangnya.

Secara definitif strukturalisme genetik Parus menjelaskan struktur dan asal-usul struktur itu sendiri, dengan memperhatikan relevansi konsep homologi, kelas sosial, subjektransindividual, dan pandangan dunia. Dalam penelitian, langkah-langkah yang dilakukan, diantaranya:

a. meneliti unsur-unsur karya sastra

b. hubungan unsur-unsur karya sastra dengan totalitas karya sastra

c. meneliti unsur-unsur masyarakat yang berfungsi sebagai genesis karya sastra

d. hubungan unsur-unsur masyarakat deengan totalitas masyarakat

e. hubungan karya sastra secara keseluruhan dengan masyarakat secara keseluruhan.

C. Teknik Analisis dan Langkah-Langkah Strukturalisme Genetik

Teknik analisis yang digunakan dalam strukturalisme genetik adalah model dialek. Model ini mengutamakan makna koheren (saling berhubungan). Prinsip dasar teknik analisis model dialek adalah adanya pengetahuan mengenai fakta-fakta kemanusiaan akan tetap abstrak apabila tidak dibuat konkret dengan mengintegrasikan di dalam totalitas (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 61).

Secara sederhana Suwardi Endraswara dalam Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 62, kerja penelitian strukturalisme genetik dapat diformulasikan ke dalam tiga langkah, dan satu langkah adalah makna totalitas yaitu:

  1. penelitian bermula dari kajian unsur intrinsik,

  2. mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena ia merupakan bagian komunitas tertentu, dan

  3. mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang.

  4. Dan setelah kita menelaah karya sastra dari ketiga langkah ini, maka akan didapat benang merah yaitu makna totalitas. Makna totalitas, merupakan sebuah harapan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang.

Analisis Strukturalisme Genetik

Naskah Drama “BLEG-BLEG THING” Karya Yusuf Peci Miring

Dalam naskah drama “BLEG-BLEG THING” karya Yusuf Peci Miring, kami mengkaji dengan pendekatan Struktural Genetik. Kerja penelitian strukturalisme genetik dapat diformulasikan ke dalam tiga langkah dan satu langkah adalah makna totalitas yaitu:

1. Kajian Unsur Intrinsik/Bedah Struktur Naskah

a. Tema

Pengertian tema sebagai salah satu unsur karya sastra maupun untuk mendeskripsinya pernyataan tema yang dikandung dan ditawarkan oleh sebuah cerita karya sastra. Tema menurut Stanton (1965:20) dan Kenny (1966:88), adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita.

Tema yang diangkat dalam naskah drama yang kami kaji adalah berdasarkan penggolongan tema dari tingkat keutamaannya, dalam Teori Pengkajian Fiksi, Burhan Nurgiantoro:82, ada 2 macam, yaitu:

  • Tema Mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu. Menurut kami tema yang diangkat dalam naskah drama “Bleg – Bleg Thing” adalah mbela keadilan kanggo masyarakat marginal.

  • Tema Minor adalah makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat diidentifikasikan sebagai makna bagian, makna tambahan. Yang termasuk tema minor dalam naskah drama “Bleg – Bleg Thing” yaitu:

  1. Tema tentang ekonomi

Berangkat dari marginal, dari situ bisa dilihat dari pekerjaan, guide, penjual doro, buruh bangunan, ledek munyuk, sol sepatu, mengindentifikisai tentang ekonomi mereka. Imbasnya ekonomi regional menjadi pengaruh pada wilayah ekonomi lokal mereka, contohnya makan kehidupan sehari – hari.

02. Lik Seni : Kowe ki ngopo?

03. Sae : Mensana inkorporesano, awak sehat badan kuat. (parikan) magan iwak- iwak kebo, yen pingin numpak, ngolek bojo…..loro hahahaha

tegese awak sehat kuwi penting lik….

04. Lik Seni : Awak sehat pancen penting, ning yen raduwe duwit kuwi yo bahaya, kuwi malah soyo ra sehat

08.Lik Seni : Lha iyo yen awake sehat nanging utange okeh koyo kowe kuwi yo samsoyo ora sehat. Kene saiki balekne duwitku sing mbok silih rong minggu wingi.

12. Lik Seni : Mbok yen ndobos ki rasah gegedhen lambe, saiki kasunyatane piye? Koyo Si Be kae, jare ingon-inginane doro pirang-pirang, bul opo? malah diparani pulisi jare kur doro malingan……..gek opo kuwi. mbok sing nyoto wae. Koyo aku elek-eleke nduwe garapan ora ketang yo ming buruh.

13. Jarno gaet (guide) ; (soko tritisan omah karo nggowo lan ngematake peta kutho jogja) Bener, kuwi oke brader (brother), ra ketang buruh bangunan ning nek halal mesthi dadi daging, iyo tho brader.(ngomong karo seni)

15. Jarno gaet : Kuwi yo ora iso ngono lik brader…… elek-elek o kae kuwi yo garapan……… ning katakanlah kuwi garapan sing rodho muspro soale serett hehehe (rodho ngece)

19. Jarno gaet : Ha geneee, nek muni kuwi dipikir rumangsamu aku ki ra ngaggo kursus po piye dadi gaet kuwi……..gaet kuwi garapan resmi, garapan sing dadi ujung tombake pariwisata, dadi raiso sembarangan uwong….lha aku kuwi mbiyen kursus ning gajah mada eee padhakeee…….

35. Jarno Gaet : Ngamen ??? mboten sae, sing jeneng rejeki kuwi yo kadang sepi kadang rame…. Njajal…. Bayangno, saiki kuwiii turis-turis sing dho teko ning kraton, malioboro opo tamansari kae, dho nggowo gaet dhewe-dhewe… lha wong koyo aku kuwi dadi ora kebagian garapa tho…katakanlah yen arep diadu pengetahuane babagan panggonan wisata koyo ngono kuwi aku yo wani tanding…brader…..lha kok malah nggowo gaet dhewe….gaet soko njobo yo gur didobosiii

  1. Tema pendidikan

Pendidikan menjadi pilar dari kemajuan bangsa, maka ketika akses pendidikan adil dan merata maka persoalan bangsa dari apapun selesai.

20. Lik Seni : Kuwi yo ono ijazahe Jar?

21. Jarno gaet : Yo ono lik brader, sekolah kok ra ono ijasahe piye, lha nek pingin ngerthi yo dolan nggonku kono. Sertipikate ijasahe kuwi dithokake karo kampus gajah mada……..dadi kuwi resmi….kae galo sing tak laminathing ning tembok kae opo, kae ijazahe sing ono potoku…katakanlah nek ono sing mbutuhake aku ki duwe gacuk

27. Jarno Gaet : Wis cangkemu ra crigis….mulo bukane ngene, sak wise aku metu soko SMP kae, aku melu lik ku nyambut gawe kuli angkut ning pabrik gulo madu kismo, bagian ngangkut blothong. Garapan iki tak lakoni ngasi 4 taun punjul, nganti tekan kedadeyan sing gawe ciloko likku kae, wonge kecemplung blothong panas ra let suwe mati. Garapane abot ning ono sing tak senengi, yen ono kunjungan, katakanlah soko bocah kuliyahan opo bocah SMA opo pegawai pabrik liyo, tekan limbah mesthi aku sing di jokne nggo ngomong mergane aku sing sekolah duwur dhewe, lha kancane ming lulusan SD kabeh. Lha mulo soko kuwi, tak rasakaake yen dadi pemandu kuwi yo nyenengake. Bareng likku ra ono aku metu mergane aku rodho trauma. Nganggur suwe, aku kelingan jaman ning madu kismo, haa ndelalah pas aku mlaku ning kampus gajah mada kono, ono kursus gratis sing dienekake kanggo poro tukang becak lan andhong kanggo ngancani poro wisatawan. Aku melu. Ning kanggoku kuwi kurang, katakanlah ilmu sing tak oleh ming sithik, mulo njur aku nekat nggolek kursusan sing resmi. Banjur aku ditawani ning salah sijine sing ngajari kursus kon nerusake melu mahasiswa gajah mada sing dho praktek gaet. Wis sekolahe ra mbayar ngilmuku tambah pengalaman yo tambah oleh ijasah pisan. Lha iso tak nggo golek pangan. Dadi nek babagan pendidikan aku sithik-sithik yo dong, mulo nek mbesok dho nduwe anak ojo dho gelem mbayar sekolahan, wong negoro kuwi wis menehi duwit sing cacahe okeh ning dinas pendidikan kok isih kon mbayar…….jajal saiki anggarane 20% soko pirang ewu trilyun kuwi piro ? lhak angel ale ngetung tho. Lha ewo semono kok sekolah isih kon mbayar…asu tho kuwi brader.

(meneng sedelo, trus nerangake maneh babagan gaet wisata)

Tak kandhani yooo sing jeneng kursus dadi gaet kuwi ra sembrono. Sepisan kudhu nduweni kekendhelan, ora clingus. Kepindhone nduweni pengalaman lan pengetahuan babagan pariwisata, katakanlah ngerti seluk beluk kuthone dhewe…….kaping telu ngerti reregan, nggon bakul sofenir lan jajanan……kuwi penting…. Banjur ajar boso londho….pendidikan kuwi penting. Mulo sepisan maneh yen dho duwe anak sak iso-isone kudu disekolahake ojo kon ngamen wae, bodho kok dho seneng.

203. Jarno gaet : Walah kok koyo yak-yak o wae kowe kuwi brader………iki sing salah dudu bapakne, opo koe, opo wong kampong kene, iki sing salah ki kahanan. Kahanan sing digawe karo wong ndhuwurannn, katakanlah nek nggolek pangan gampang, opo-opo murah trus sekolah yo murah nek ora oleh gratis, ora bakal ono kedadeyan koyo ngene iki. Ora bakal wong ora duwe dadi ora sekolah………

204. Pak Turah : Koe bener jar….yen umpamane pamerintah kae ora gawe-gawe kahanan koyo ngene, ora mungkin awak dhewe keseser kesandung, bocah arep nggolek ngilmu wae nganti ora sanggup.

205. Jarno gaet : Kamongko pak dhe. Yen umpamane pamrintah kuwi sadar lan ngerti babagkan pendidikan. Sing untung yo sopo, sopo? Sing untung yo pamrintah dhewe amargo masyarakate dadi pinter nek wis pinter ngawe garapan opo wae gampang nek wis ngono negoro bakale makmur mergo ora ono wong nganggur, ekonomine apik, ora perlu dadak lungo menyang malesya dadi tki koyo bapakane Bardin kuwi………ning kono ra urungo yo kur dadi jongos. Mulo piye-piye o nek aku tak sembadani, pingin kursus yo kursus embuh piye carane…….lha pemerintah sing julig koyo ngene iki yo kudhu dilawan karo coro julig brader

206. Jono kethek : Bener Jar…pemerintah julig kudhu di lawan karo coro julig, koyo dukuhe kae yen main-main bakal ciloko dijuligki uwong gentian…..

Sae sing kawit mau ngematake wong telu jagongan melu urun rembug babagan sekolah

207. Sae : (karo njupuk kacang godhog sing digelar) Weh nek babagan sekolah, aku yo ra kalah sengsoro lik………tenan iki, mbiyen jaman SD aku ki kegolong rodho pinter, ming goro-goro seragam aku dadi metu sekolah……..lha opo sekolah kok madak kudu seragam, opo sing sekolah kuwi seragame. Ngasi diparani ning sekolahan karo bapakku kon bali rasah sekolah…..

208. Jono kethek : Lha nek kowe no sakik leh mu ndableg……..

209. Sae : Tenan iki lik, mulo bukane ki ngene……..jaman banjir gedhe kae klabiku ki keli kabeh termasuk seragam barang. Bareng ra duwe seragam yo sakanane, mlebu sekolah yo gur kaosan nganggo sandal jepit wong ra duwe opo-opo. Lha nek tekan sekolahan diece karo kanca-kancane nyang gurune yo ditambahi sing jare cah alasan ora duwe toto pokokmen werno-werno…..nganti bapakku diundang ning sekolah, sanajan wis diterangake kahanane yo meso tetep ora dho ngandel, wategke bapak wiiss aku kon metu sekolah sisan……

210. Jarno Gaet : Trus dodol doro yo E, malah tonjo

211. Sae : Lha piye maneh wong ra ono garapan liyo….

  1. Tema Mitos

Mitos ini mewarnai semua kejadian yang ada di cerita itu, di masyarakat pingiran kota, masih berubungan baik tentang hal mistis, itu menjadi hal yang di openi bagi orang jawa

conto di mitoskan adanya den baguse endro sebagai penunggu salah satu jembatan

Untk membuktikan di percaya ada tapi tidak selalu benar

Jarno gaet sing ket wingi ora pati percoyo karo Den Bagus Endro banjur melu ngomong

242. Jarno gaet : Yen aku ora ngono ale ndelok, mergo ono jalaran liyane sing ora kalah alasane, koe kabeh lak tau krungu tho masalah ale sekolah si bardin.

243. Lik Seni : Karepmu kui opo e jar?

244. Jasmani : Iki ora ono ubungane karo sekolah kuwi kang ?

245. Jarno gaet : Ono, nek aku ngarani bocah iki ora mergo baguse endro, nek aku bocah iki nglalu……

246. Jasmani : Tenane kang, koe ki ragawe-gawe lho. Omongamu kuwi iso gawe rame nek krungu wong akeh lho kang

247. Lik Seni : Wis tak bedheg koe arep muni ngono mau, ning opo yo tekan bocah sak mono njur nglalu goro-goro ora biso sekolah Jar

248. Jarno gaet : Iso wae, saiki conto ning tipi kae wis okeh, bocah bayi-bayi podho nglalu ming goro-goro wong tuwane ora biso ngragati sekolah, njaluk jajan ra dituruti, goro-goro diece koncone anake wong tukang ngamen, opo putus cinta……malah sing paling anyar gur goro-goro dilokne kancane mergo raiso melu tamasya…………..edan ra kuwiiii

249. Lik Seni : Wah kok yo cethek temen yo mikire bocah saiki

250. Jarno gaet : katakanlah wong nek kepepet ki akale iso mlaku dhewe, nekad. Opo maneh yen pikirane suwung gampang kangslupan sing ora-ora

251. Pak Turah : Yo iso wae ngono Jar, saiki koyo omonganku maeng, cah kene kuwi lak iso langen kabeh tho, lha nek kur kepleset ning jumbleng koyo ngono wae yo sipil ale mentas….kok aku rodho cocok karo pikiranmu kuwi jar nek si Bardin kuwi nglalu

252. Jasmani : Dadi opo gunane sekolah yen marakake bocah dho cekak pikirane kang, mbah….

253. Pak Turah : Yo iki mangsarakate dhewe kui sih cekak pikire. Gampang gumunan, gampang

Ardi bengak-bengok soko njeron panggung, ngabarake nyang wong kampong yen wit sing ngillangake bardin ambruk

254. Ardi + I II III : Pak dhe, kang…………. Uwite sukun ambruk, uwite sukun ambruk……

255. Pak Turah : Wit sukun sing endhi?

256. Ardi : Wit sukun cedak kuburan

257. Lik Seni : Sing ngilangake Bardin wingi………

258. Ardi : Iyo lik…….. ambruk e ngidul….sak oyot-oyote jebol kabeh…..

259. Lik Seni : Iki sasmithane opo pak dhe…..

260. Pak Turah : (ngadeg………ndeleng sak titik) Iki pacen sasmitho……..

Kabeh podho meneng ora obah babar pisan, matane podho nyawang sak garis…………..(suawasono anyep, alon-alon lampu mati)

  1. Tema kritik sosial

Tentang pak dukuh yang di jadikan musuh bersama, maksudnya segala kesalahan dan minimya akses yang berbau kebijakan sosial selalu yang di salahkan adalah pemimpin. Dan faktanya pak dukuh memang tidak mau ngurusi.

57. Jarno Gaet : Dukuhe ki yo ra dong babagan ngono kuwi, endhi njajal………ngerti yen powotan kono kuwi wis meh kinthir yo ora didandani, mulo ora salah yen ono bakul bakso kecemplung

58. Sae : Ning nek wingi tetep den baguse endro kang, wong bakule kuwi urung nganti powotan wis belok kok, ha yooo blenggg… krampul-krampulll sak endhog-endhog e.

190. Pak Turah : Si Nah kae ki tau kewetu karo aku masalah bocahe, yo si Bardin kuwi. Jare si Bardin ki pingin sekolah maneh, lha ning wong kahanane koyo ngono dadi mbokne ora nyanggupi. Saiki nek mlebu SMP kuwi opo ra yo wis jutaan. Gek opo saguh nek gur koyo si Nah kae. Lha tau yo an, masalah iki tak rembug karo dukuhe, jarene arep diusahakne ning yo nyatane seprene ora ono kabar opo-opo.

191. Jarno Gaet : Dukuhe ki iso opo pak? Wong ora chetho ngono kok. endhi jajal ono rame-rame koyo ngene yo ora ngethok. Tanggung jawabe karo warga ki nol. Coba, katakanlah nek sing kelangan anak ki wong pinggir ndalan sing sugih-sugih kae, ale glundungan ngalahne kirik di nehi balung….

192. Yono kethek : Wah ojo meneh kok masalah sekolah jar….. nggawe KTP sing kudune gratis wae nyang dukuhe yo mekso mbayar kok. Ora lho, lha jarene saiki kuwi sekolah digratisake, mergo diwajibake tekan sangang taun piye tho?

193. Jarno Gaet : Digratiske apane? nyatane opo brader? Kae wingi anak e Rudi jait, mlebu SMP yo isih mbayar, jarene wis ra nganggo duwit SPP ning sumbangan liyane isih dlidir jumlahe yo jutaan……nek jaman aku kursus mbiyen kae aku krungu yen pamerintah wis ngglontorake duwit trilyunan kanggo ngragati cah sekolah. Wis dipontho-pontho dinggo ngragati bocah sing wong tuwane dho ora mampu, ning nyatane endhi? ngono kuwi opo nek ra gur apus apusan. Mulo ara mokal nek okeh cah do rasekolah mergo wong tuwane dho ra kuwat mbayar, iso ugo si Bardin kuwi lungo adoh mergo nesu raiso sekolah yo sopo ngertiii……pemerintah ki cen asu….nek ono duwit ale rayahan koyo kirik rebutan daging…duwite rakyat okeh diceh-ceh…bajingan tenan

194. Pak Turah : Yo iso kuwi jar….wektu kui dukuhe yo ngomong yen bocah sing kelebu keluargane wong ora duwe iso diusahakne mergo pemerintah wis nyediake duwit kanggo wong sing kurang mampu. Ning yo embuh nek duwite kuwi njur kecer dadi taiii yo iso…….

195. Yono kethek : Yo iso pak dhe, wong gedhe gedhe kae cen doyan taiii

196. Jarno Gaet : Nek koe tau krungu, ono contone, kae sing ning kabupaten lor kono yo ngono. Ono duwit soko pusat kanggo nganakake buku, banjur karo kepalane pendidikan kuwi duwite ora lansung disetorake nggo tuku buku ning di lebokake tabungane dheweke disik, katakanlah dianakake, lha nek duwit atusan juta teko milyaran…kuwi bungane lak okeh banget tho. Di edhekake sesasi ngono wae wis madang……..lha barengono dikasuske karo kanca-kancane saiki yo mlebu mbui modar cocote………conto koyo ngono kuwi lak wis genah uteg-utegkane mulo awak dhewe ki nek isih iso diapusi yo terus diapusi nggo nyugihake wong dhuwurannn

Mbah Dukuh Dongkol miwiti slametan sing ditujokake kanggo goleki si Bardin, bocah sing jare ilang ning wit sukun.

b. Tokoh dan Penokohan

Analisis Tokoh dan Penokohan Naskah Drama

  1. Sae

Peran tokoh yang dimainkan sae termasuk ke dalam tokoh protagonis, mempunyai karakterter berbentuk flat (datar)

Secara sikis, sae punya pandangan kedepan mengenai dirinya, sae termasuk anak yang cerdas hanya keadaan yang kemudian membuat sae harus berhenti sekolah di SD, karena terlibat konflik kawan-kawan dan pihak sekolah.

Fisiologis

Berkelamin laki-laki yang berusia sekitar 23-an tahun, tubuhnya kencang, sterek karna sering olah raga.kulit sawo matang, rambut hitam ikal.

207. Sae : (karo njupuk kacang godhog sing digelar) Weh nek babagan sekolah, aku yo ra kalah sengsoro lik………tenan iki, mbiyen jaman SD aku ki kegolong rodho pinter, ming goro-goro seragam aku dadi metu sekolah……..lha opo sekolah kok madak kudu seragam, opo sing sekolah kuwi seragame. Ngasi diparani ning sekolahan karo bapakku kon bali rasah sekolah…..

208. Jono kethek : Lha nek kowe no sakik leh mu ndableg……..

209. Sae : Tenan iki lik, mulo bukane ki ngene……..jaman banjir gedhe kae klabiku ki keli kabeh termasuk seragam barang. Bareng ra duwe seragam yo sakanane, mlebu sekolah yo gur kaosan nganggo sandal jepit wong ra duwe opo-opo. Lha nek tekan sekolahan diece karo kanca-kancane nyang gurune yo ditambahi sing jare cah alasan ora duwe toto pokokmen werno-werno…..nganti bapakku diundang ning sekolah, sanajan wis diterangake kahanane yo meso tetep ora dho ngandel, wategke bapak wiiss aku kon metu sekolah sisan……

Sae selalu berfikir pesimis, karna mengagap dirinya kalah karena lingkungan sosial yang membentuk, orang2 seperti sae tidak percaya akan pemerintah (yang mewakili di lingkungan dia, contoh pak dukuh). Juga suka besar-besarin omongan dan percaya masalah mistis.

34. Sae : Weh manteb banget tak kiro narik londho ko sepuluh, bul ngeblong……….lha kok ra narik ki piye?….. jare gaet handal….lha nek ajek ra mesthi narik lha mbok ngamen wae genah raketang piro-piro olehhh duit………

36. Sae : Tegese kuwi ono sing salah lik…….ojo-ojo sak suwene iki okeh londho sing dho keblonyok mergo gaet koyo kowe kuwi, angkane ceritane tamansari sing ngene, digawe ngono. critane ngasem sing ngono kae digawe bedoo, reregan sing murah dadi larang….ha yo mesthi kapok nganggo gaet koyo kowe…

226. Sae : Awak dhewe ki opo isih duwe dukuh, nyatane endhi gegeran ngene yo blas ora cawe-cawe…

09. Sae : Walah, durung oleh balen lik, mengko nek doroku wis payu, lagi tak bayar….(nyedaki seni) wingi wis ditowo 250 ewu sak pasang.

10. Lik Seni : Ra ngandhel (sajak sengit)

11. Sae : Sing megan kae, weh… kae ki mabure koyo peluru tenan lik, banter menthit……elok tenan. Ha nek ono uwong sing ngerti babagan doro, ora mokal doroku kuwi payu 500ewu, opo malah jutaan, tenan iki lik…..

58. Sae : Ning nek wingi tetep den baguse endro kang, wong bakule kuwi urung nganti powotan wis belok kok, ha yooo blenggg… krampul-krampulll sak endhog-endhog e.

224. Sae : Iso lho kang, lho nek dirunut, angger ono masalah karo kali sopo meneh nek dudu demite siji kuwi….

  1. lik seni

Laki-laki yang berusia 30-an tahun, pekerjaannya buruh bangunan, kulit hitam gosong kebakar matahari, rambut ikal gondrong sebahu.

Orang yang realistis dalam menghadapi hidup dan juga berpikiran lugu atau sederhana.

12. Lik Seni : Mbok yen ndobos ki rasah gegedhen lambe, saiki kasunyatane piye? Koyo Si Be kae, jare ingon-inginane doro pirang-pirang, bul opo? malah diparani pulisi jare kur doro malingan……..gek opo kuwi. mbok sing nyoto wae. Koyo aku elek-eleke nduwe garapan ora ketang yo ming buruh.

14. Lik Seni : Lha iyo no, coba kandhanono bocah iki ben ale dolanan doro sing ora migunani kuwi dilereni.

28. Lik Seni : Weeehhh nek koyo aku iki iso melu kursus dadi gaet ora Jar?

30. Lik Seni : Yo nek gur jeneng dalan aku yo iso, jeneng toko aku yo apal, nek ono sing takon, nggon dolan tak dudohi, ono sing pingin ngising tak terake ning wc, lha nek arep jajan tak terake ning sarkem lak rampung……

43. Lik Seni : Iki apik lho jar…. Mengko yen tekan kene dicritani kampong kene, diwarahi golek grosok, diajak ngamen opo dijak dodol cilok ning pinggir ndalan…. Ning yo ojo lali nek mrene kon nganggo klambi sing rodho mepet……..nek iso kothangan thokkk……..weehhhh mesthi yeeesss kuwiiii lha koyo ngene iki lak ora ono tho ning negerane kono.

  1. jarno gaet

secara fisik, laki-laki yang berumur 29-an tahun, rambut semerin mereh sebagian, lebih rapi karena tuntutan pekerjaan.

Pesimis terhadap pemerintah dan tidak percaya pada mistis, lebih menggunakan logika dan pengetahuannya lebih luas dari pada yang lain, punya keinginan kuat untuk merubah kondisi dirinya dan lingkungannya, di anggap orang yang pinter.

191. Jarno Gaet: Dukuhe ki iso opo pak? Wong ora chetho ngono kok. endhi jajal ono rame-rame koyo ngene yo ora ngethok. Tanggung jawabe karo warga ki nol. Coba, katakanlah nek sing kelangan anak ki wong pinggir ndalan sing sugih-sugih kae, ale glundungan ngalahne kirik di nehi balung….

193. Jarno Gaet : Digratiske apane? nyatane opo brader? Kae wingi anak e Rudi jait, mlebu SMP yo isih mbayar, jarene wis ra nganggo duwit SPP ning sumbangan liyane isih dlidir jumlahe yo jutaan……nek jaman aku kursus mbiyen kae aku krungu yen pamerintah wis ngglontorake duwit trilyunan kanggo ngragati cah sekolah. Wis dipontho-pontho dinggo ngragati bocah sing wong tuwane dho ora mampu, ning nyatane endhi? ngono kuwi opo nek ra gur apus apusan. Mulo ara mokal nek okeh cah do rasekolah mergo wong tuwane dho ra kuwat mbayar, iso ugo si Bardin kuwi lungo adoh

196. Jarno Gaet: Nek koe tau krungu, ono contone, kae sing ning kabupaten lor kono yo ngono. Ono duwit soko pusat kanggo nganakake buku, banjur karo kepalane pendidikan kuwi duwite ora lansung disetorake nggo tuku buku ning di lebokake tabungane dheweke disik, katakanlah dianakake, lha nek duwit atusan juta teko milyaran…kuwi bungane lak okeh banget tho. Di edhekake sesasi ngono wae wis madang……..lha barengono dikasuske karo kanca-kancane saiki yo mlebu mbui modar cocote………conto koyo ngono kuwi lak wis genah uteg-utegkane mulo awak dhewe ki nek isih iso diapusi yo terus diapusi nggo nyugihake wong dhuwurannn

203. Jarno gaet : Walah kok koyo yak-yak o wae kowe kuwi brader………iki sing salah dudu bapakne, opo koe, opo wong kampong kene, iki sing salah ki kahanan. Kahanan sing digawe karo wong ndhuwurannn, katakanlah nek nggolek pangan gampang, opo-opo murah trus sekolah yo murah nek ora oleh gratis, ora bakal ono kedadeyan koyo ngene iki. Ora bakal wong ora duwe dadi ora sekolah………

205. Jarno gaet : Kamongko pak dhe. Yen umpamane pamrintah kuwi sadar lan ngerti babagkan pendidikan. Sing untung yo sopo, sopo? Sing untung yo pamrintah dhewe amargo masyarakate dadi pinter nek wis pinter ngawe garapan opo wae gampang nek wis ngono negoro bakale makmur mergo ora ono wong nganggur, ekonomine apik, ora perlu dadak lungo menyang malesya dadi tki koyo bapakane Bardin kuwi………ning kono ra urungo yo kur dadi jongos. Mulo piye-piye o nek aku tak sembadani, pingin kursus yo kursus embuh

242. Jarno gaet : Yen aku ora ngono ale ndelok, mergo ono jalaran liyane sing ora kalah alasane, koe kabeh lak tau krungu tho masalah ale sekolah si bardin.

245. Jarno gaet : Ono, nek aku ngarani bocah iki ora mergo baguse endro, nek aku bocah iki nglalu……

248. Jarno gaet : Iso wae, saiki conto ning tipi kae wis okeh, bocah bayi-bayi podho nglalu ming goro-goro wong tuwane ora biso ngragati sekolah, njaluk jajan ra dituruti, goro-goro diece koncone anake wong tukang ngamen, opo putus cinta……malah sing paling anyar gur goro-goro dilokne kancane mergo raiso melu tamasya…………..edan ra kuwiiii

250. Jarno gaet : katakanlah wong nek kepepet ki akale iso mlaku dhewe, nekad. Opo maneh yen pikirane suwung gampang kangslupan sing ora-ora

27. Jarno Gaet : Wis cangkemu ra crigis….mulo bukane ngene, sak wise aku metu soko SMP kae, aku melu lik ku nyambut gawe kuli angkut ning pabrik gulo madu kismo, bagian ngangkut blothong. Garapan iki tak lakoni ngasi 4 taun punjul, nganti tekan kedadeyan sing gawe ciloko likku kae, wonge kecemplung blothong panas ra let suwe mati. Garapane abot ning ono sing tak senengi, yen ono kunjungan, katakanlah soko bocah kuliyahan opo bocah SMA opo pegawai pabrik liyo, tekan limbah mesthi aku sing di jokne nggo ngomong mergane aku sing sekolah duwur dhewe, lha kancane ming lulusan SD kabeh. Lha mulo soko kuwi, tak rasakaake yen dadi pemandu kuwi yo nyenengake. Bareng likku ra ono aku metu mergane aku rodho trauma. Nganggur suwe, aku kelingan jaman ning madu kismo, haa ndelalah pas aku mlaku ning kampus gajah mada kono, ono kursus gratis sing dienekake kanggo poro tukang becak lan andhong kanggo ngancani poro wisatawan. Aku melu. Ning kanggoku kuwi kurang, katakanlah ilmu sing tak oleh ming sithik, mulo njur aku nekat nggolek kursusan sing resmi. Banjur aku ditawani ning salah sijine sing ngajari kursus kon nerusake melu mahasiswa gajah mada sing dho praktek gaet. Wis sekolahe ra mbayar ngilmuku tambah pengalaman yo tambah oleh ijasah pisan. Lha iso tak nggo golek pangan. Dadi nek babagan pendidikan aku sithik-sithik yo dong, mulo nek mbesok dho nduwe anak ojo dho gelem mbayar sekolahan, wong negoro kuwi wis menehi duwit sing cacahe okeh ning dinas pendidikan kok isih kon mbayar…….jajal saiki anggarane 20% soko pirang ewu trilyun kuwi piro ? lhak angel ale ngetung tho. Lha ewo semono kok sekolah isih kon mbayar…asu tho kuwi brader.

(meneng sedelo, trus nerangake maneh babagan gaet wisata)

Tak kandhani yooo sing jeneng kursus dadi gaet kuwi ra sembrono. Sepisan kudhu nduweni kekendhelan, ora clingus. Kepindhone nduweni pengalaman lan pengetahuan babagan pariwisata, katakanlah ngerti seluk beluk kuthone dhewe…….kaping telu ngerti reregan, nggon bakul sofenir lan jajanan……kuwi penting…. Banjur ajar boso londho….pendidikan kuwi penting. Mulo sepisan maneh yen dho duwe anak sak iso-isone kudu disekolahake ojo kon ngamen wae, bodho kok dho seneng.

  1. Yu siti

Perempuan umur 40-an tahun, badannya besar banyak lemak. Pekerjaan, penjual jajanan keliling.

Berfikir realistis, bodo tidak bisa baca tulisan, dan ngeyel.

60. Yu Siti : Nangsib yen lagiii apes yon gene iki, karepe arep nguber rejeki gedhe malah bubrug…..

62. Yu Siti : (sambat) Jajal tho, dagangan isih memplek koyo ngene iki njur kepiye?

64. Yu Siti : Pangan dhewe udelmu kuwi Jar, bayangno isuk mau, aku ki dikandhani nyang wiro bakule rondhe, wonge ngomong ngene karo aku, (nirokake wiro) yu mengko ono pengajian ning alun-alun kidul…..lha aku ndang gage-gage pesen karo juraganku dagangan sing rodho okeh, sing biasane aku mangkat jam songo, jam enem aku wis mangkat………….. tekan ngalun-alun kono wis jam wolu an. Tarub wis dipasang meh sak alun-alun, atiku soyo bungah. Wehhh bakal kelarisan iki mengko….sak jam lewat kok sing dho ngaji durung dho teko. Njur aku takon karo bakule bubur ayam kae, lha kok jarene pengejiane isih sesuk e wengi, jajal opo ra biyangane kuwi

66. Yu Siti : Spanduk ngarep omahku sing wernane ijo kae?

68. Yu Siti : Kae spanduk opo?

72. Yu Siti : He eh thoo lha kok aku ra ngeti yo, wahhh kok yo ra tak woco yooo

78. Yu Siti : Mocone ki yo lamat-lamat ora iso…..

76. Yu Siti : Wong jarene guntinge tibo ning ndalan dadi nyilih ladingku

74. Yu Siti : Wingi kuwi aku yo ngerti ale masang wong ale ngethok taline spanduk kuwi nyilih ladingku. Wehh ciloko

  1. Jasmani

Laki-laki berumur 19-an tahun, pengangguran, hidupnya Cuma seneng-seneng. Tidak punya sopan santun.

Sepi ra ono sing semaur, nandhakake kabeh wis podho ndelik………..Ardi celingukan noleh kiwo tengen sajak nggoleki kancane nanging tetep waspodho, supoyo bentenge ora kecolongan, mlaku mubengengi beteng.

Soko kiwo panggung Jasmani mlebu kupinge disumpeli nanggo mikrofon nggo ngrungokake lagu soko Hpne. Ndase gela-gelo sajak nglaras lagu sing dirungokake

Jasmani meneng wae ora semaur, mergo ora krungu

Jasmani gela-gelo karo matane mendelik sajak melu iromo lagu soko Hpne

102. Jasmani : (rumangso dibedho nesu) Ooooo cangkeme, koe ki ngopoooo?

104. Jasmani : Ra ngurus……(karo mbenakake headsete)

106. Jasmani : Ngganggu wong seneng wae……kono golekono ning njaratan lorr kono maeng dho glibetan turut kono…..

108. Jasmani : (nirokake lagu sing dirungokake)………Emang dasar-emang dasar eeeeeee dasar kamu bajingannnnnn, kamu bajingan………

( nirokake lagune wali, dasar bajingan. karo ndudingi Ardi, banjur ngguyu)

110. Jasmani : UUuuuoooooooo oooo uuuuuooo ooooo eeee dasar kamu bajingannnnn (karo ndudingi ardi)

112. Jasmani : Haaaaaaa (girap-girappp keget) wahhhh biyangane wong tuwo ora urus ngaget-ngageti uwong waeee, jannn

  1. Mak nah

Perempuan umur 50-an tahun, badannya berisi. Pekerjaan buruh cuci. Percaya mistis, percaya obat-obat tradisional. Orangnya grapyak, suka menolong.

Ardi mungkur nyang mburi nggoleki kancane sing isih ndelik, Jasmani soyo ndadi ale nyanyi, Mak nah methu soko gubuke gur nganggo jarit karo kotang, raine nganggo bobok dadi kethok koyo memedhi……nyedaki Jasmani soko mburi banjur namplek pundake Jasmani, sing diteplek pundhake noleh….kaget..

127. Mak nah : Iki ki obat jowo, iki mono digawe soko beras le, yen dienggo dadi adem menakkk, dienggo turu yo angler……….(karo ngentasi memeyan sing nemplek ning gedheg tritisan ngarepan omahe) gek kowe maeng tak takon……. Si Ardi kok mbok bajing-bajingke kuwi ngopo?

125. Mak nah : Iki ora nggo nggaya iki mono obat leee. Ben kulit rai alus, ora gatel ora cepet mengkerut

  1. Pak turah

secara fisik, laki-laki yang berumur 65-an tahun, rambut sudah beruban, kulit keriput. Pekerjaan sol sepatu. Berfikiran realistis, dan percaya pada mistis, salah satu orang yang di tuakan di kampung (orang yang banyak tau tentang kampung tersebut) dan orang yang bisa diajak musyawarah. Perhatian dengan lingkungan yang senasib.

187. Pak Turah : Nek wong ngendhine aku ra gerti, yo gur jare wong wonogiri kono, ha ning yo embuh asline……….ale lungo kae yo wis ono meh patang taun iki, nek ndisik kabare nyang malaisya jare golek garapan. Ning yo embuh wong nganti saiki ora kirim kabar. Ojo maneh kok duwit wong layang wae sing wedhok yo ora tau nompo

190. Pak Turah : Si Nah kae ki tau kewetu karo aku masalah bocahe, yo si Bardin kuwi. Jare si Bardin ki pingin sekolah maneh, lha ning wong kahanane koyo ngono dadi mbokne ora nyanggupi. Saiki nek mlebu SMP kuwi opo ra yo wis jutaan. Gek opo saguh nek gur koyo si Nah kae. Lha tau yo an, masalah iki tak rembug karo dukuhe, jarene arep diusahakne ning yo nyatane seprene ora ono kabar opo-opo.

194. Pak Turah : Yo iso kuwi jar….wektu kui dukuhe yo ngomong yen bocah sing kelebu keluargane wong ora duwe iso diusahakne mergo pemerintah wis nyediake duwit kanggo wong sing kurang mampu. Ning yo embuh nek duwite kuwi njur kecer dadi taiii yo iso…….

  1. Yono ketek

secara fisik, laki-laki yang berumur 57-an tahun, rambut sudah beruban dan botak, kulit hitam dan keriput. Pekerjaan tandak bedes (topeng monyet). Berfikiran realistis, dan percaya pada mistis, lebih sensitif terhadap lingkungannya.

200. Jono kethek : OOO dasar bapakane sing bajingan….. utegke ki didokok ngendiiii

202. Jono kethek : Aku ra tegel yen ndeleng kahanan koyo ngene iki dhe…wooo nek sing lanang kuwi dulurku wis tak polo wingi-wingi tenan….

  1. Dukuh dongkol

secara fisik, laki-laki yang berumur 57-an tahun, rambut sudah beruban dan botak, kulit hitam dan keriput. Mantan pejabat atau dukuh, pintar dengan ilmu kejawen, jadi panutan di kampung, sangat percaya mistis

Mbah Dukuh Dongkol miwiti slametan sing ditujokake kanggo goleki si Bardin, bocah sing jare ilang ning wit sukun.

197. Dukuh Dongkol : (keplok tangan ping telu banjur nembang sekar pangkur)

Singgah-sing ah ka- la sing-gah,

Pan su- ming- gah dur-ga-ka- la summing-kir

Si- nga ha- ma si- nga wu- lu,

Lan su- ku sing a- si – rah

Si- nga teng-gak mi- wah ka- la si- nga bun-tut,

Pa-dha si- ra su- ming- gah- a,

Mu- lih- a ing a- sal ne- ki

Sugeng ndalu poro sederek sedoyo. Assalamu ngalaikum warohmatullahi wabarokatu……….kunjuk dumateng gusti ingkang moho kuawaos, ingkang sampun maringi berkah soho kekuaten dumateng kito sedoyo, mugi-mugi berkah kekuatan kesarasan meniko mboten wonten telasipun., panjenengan sami, kulo ajak ngempal wonten mriki meniko mboten sanes badhe ngawontenaken wilujengan utawi slametan. Inggih meniko amargi kawontenan kabar bilih putu kulo inggih larenipun ibu girah, ingkang nami bardin meniko nembe nandang alangan. Kolowingi dinten seloso kliwon, rikolo wanci jam songo ndalu saget diarani ical, amargi ngantos sakniki derung wangsul wadagipun wonten griyo. Mbudi doyo madosi sampun kalampahan ananging dereng keparingan kasil. Pramilo dalu meniko panjenengan sedoyo kulo ajak ngempal teng mriki kangge ngunjukake donga dateng gusti ingkang moho kuwaos ugi kagem sesepuh ingkang lenggah wongten mriki. Mugi-mugi putu wayah kulo ingkang nami Bardin meniko sageto wangsul slamet lir sambe kolo tampo upami. Kulo nyuwun keiklasanipun sederek sedoyo ngaturaken donga kange lare meniko. Babagan caos nggih sampun dipun siapaken, antawis rasukanipun bardin, jajan kesenagan nipun bardin, ugi kembang setaman lan ubarampe sanesipun. Pramilo meniko monggo kulo derekanken ndedongo kangge kesaenan lare meniko. Monggo…….kulo derekaken…. Gusti ingkang moho asih ugi eyang ingkang lenggah wonten mriki, kulo sak wargo sowan wonten mriki meniko mboten sanes inggih bade nyuwun pangapunten sak ageng-agengipun bilih sak dangune kampong meniko madeg arang-arang paring caos dumateng panjenengan. Meniko mboteno amargi wargo ingkang kirang toto ananging nggih kulo piyambak ingkang mboten saget nyembadani bilih kedahipun kulo saget maringi pirso kalian wargo kedah ajeg paring caos dumateng gusti ugi eyang engkang lenggah wonten papan mriki. Pramilo meniko ananing ubo rampe kembang setaman jajan pasar ugi caos kangge lare ingkang nami Bardin arupi rasukan lan jajan remenanipun sageto ndadosaken renaning penggalih panjenegan, sageto andadosaken wangsulipun lare meniko. Pengajeng-ajeng meniko kulo lan wargo srantos saestu sageto dados nyoto amargi lare puniko sampun dipun tenggo kaliyang tiyang sepahipun ingkang nembe nandang sungkowo. Mugi pandongak meniko mboten andadosaken gusti ugi eyang ingkang lenggah wonten mriki duko dumateng lare kulo inggih sedoyo wargo padukuhan mriki. Inggih meniko budidoyo ingkang saget kulo lampahi. Mbok menawi kirang ndadosaken renaning penggalih panjenengan gusti ingkang moho asih, kulo sak wargo nyuwun ngapunten ingkang tanpo upami………..(ngusap raine tando yen dongane wis rampung)

Wis yo cah….. iki maeng wis tak lantari ndongan kanggo bardin, mugo-muga budidoyo sing kalakonan iki tansah kasil sahinggo si baridin iso bali mulih kanthi waraswiris….(bebarengan ….Aminnnn)

198. Dukuh Dongkol : Yen miturut dino ilange, bocah iki bakal bali ora suwe maneh………rodho sabar yo, tulung papan iki dijogo……wiss aku pamit disik

  1. Mak girah

Perempuan umur 40-an tahun, penjual gorengan, berisi (seperti kebanyakan ibu rumah tangga di kampung). Logatnya jawa timuran, karena asli jawa timur, tidak gampang menyerah untuk memperjuangkan hidup.

188. Jarno gaet : Wong nek bundhet pikire yo koyo ngono kuwi brader (nyang Yono kethek). Mbiyen ki Sarip kae wis meh dadi wektu dagang bakso, ning piye? senengane malah main. Tau lho pak dhe, dhek isih dodol bakso, isuk-isuk gur gari mangkat, bakso wis cumepak ning grobak wis gari mancal. trus ono wong marani numpak montor lha kok bablas ora bali rong ndino nganti baksone bosok dirubung settt. Bojone kontring muring ora karuan digoleki ning endhi-endhi ra ketemu, bul ketemune ndelik ning ngisor jembatan cedak karamba kae dho main cliwik ning kono.. lhak asu tho kuwi….. wektu kui pas baksone rodho gayeng, wong nganthi iso tuku tipi, kulkas barang… ra kethang kredit. Ning…karang cah ora setiti ora ati-ati, bareng modale wis enthek nggo royal trus, mboko sethithik barang-barange dho didoli kamongko wulanane durung lunas….lha uwis tumpes tapis enthek kabehh, jan wong yen keblinger yo ngno kuwi

  1. Bardin

Anak laki-laki umur 12 tahun. Kulit sawo matang,punya cita-cita ingin sekolah setinggi-tingginya. Berpikiran nekat kalau punya keinginan.

242. Jarno gaet : Yen aku ora ngono ale ndelok, mergo ono jalaran liyane sing ora kalah alasane, koe kabeh lak tau krungu tho masalah ale sekolah si bardin.

243. Lik Seni : Karepmu kui opo e jar?

244. Jasmani : Iki ora ono ubungane karo sekolah kuwi kang ?

245. Jarno gaet : Ono, nek aku ngarani bocah iki ora mergo baguse endro, nek aku bocah iki nglalu……

246. Jasmani : Tenane kang, koe ki ragawe-gawe lho. Omongamu kuwi iso gawe rame nek krungu wong akeh lho kang

247. Lik Seni : Wis tak bedheg koe arep muni ngono mau, ning opo yo tekan bocah sak mono njur nglalu goro-goro ora biso sekolah Jar

248. Jarno gaet : Iso wae, saiki conto ning tipi kae wis okeh, bocah bayi-bayi podho nglalu ming goro-goro wong tuwane ora biso ngragati sekolah, njaluk jajan ra dituruti, goro-goro diece koncone anake wong tukang ngamen, opo putus cinta……malah sing paling anyar gur goro-goro dilokne kancane mergo raiso melu tamasya…………..edan ra kuwiiii

249. Lik Seni : Wah kok yo cethek temen yo mikire bocah saiki

250. Jarno gaet : katakanlah wong nek kepepet ki akale iso mlaku dhewe, nekad. Opo maneh yen pikirane suwung gampang kangslupan sing ora-ora

251. Pak Turah : Yo iso wae ngono Jar, saiki koyo omonganku maeng, cah kene kuwi lak iso langen kabeh tho, lha nek kur kepleset ning jumbleng koyo ngono wae yo sipil ale mentas….kok aku rodho cocok karo pikiranmu kuwi jar nek si Bardin kuwi nglalu

252. Jasmani : Dadi opo gunane sekolah yen marakake bocah dho cekak pikirane kang, mbah….

253. Pak Turah : Yo iki mangsarakate dhewe kui sih cekak pikire. Gampang gumunan, gampang

  1. Bocah bocah

Teman sepermainan Bardin. Anak laki laki sebaya dengan bardin berumur 12 tahun.sukanya bermain- main

Bubar magrib, wong tuwo-tuwo podho leren ngaso amargo sak awan nyabut gawe. Bocah-bocah tanggung podho ngumpul dolanan ……wilwo utowo delikan rame banget. Bocah sing kalah ping sut kudhu njogo beteng karo nggoleki kancane sing ndelik nganthi ketemu. (digawe gerakan, koreografi)

Sak kruyukan ono bocah 5

Hompimpah alaihom gambreng

Gari bocah telu, hum maneh

Hompimpah alaihom gambreng

Gari bocah loro terus pingsut

Bebarengan muni

Pingggggg ssuuuutttt

Bebarengan rame banget karo podho mlayu nggolek delikan…………………………

Lha ardi kalahhhhh……ardi masangggggg……….ardi dadiiiii

c. Plot

Pada naskah drama BLEG-BLEG THING, menggunakan plot progresif (maju). Terlihat dari:

  • Pembedaan plot berdasarkan kriteria kepadatan

Di dalam cerita BLEG-BLEG THING menggunakan plot padat berdasarkan kriteria jumlah. Peristiwa-peristiwa dikisahkan menyusul secara cepat. Di samping cerita disajikan secara cepat, peristiwa-peristiwa fungsional terjadi susul-menyusul dengan cepat. Hubungan antar peristiwa juga terjalin secara erat. Antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain tidak dapat dipisahkan atau dihilangkan salah satunya. Setiap peristiwa yang ditampilkan terasa penting dan berperan menentukan dalam rangakaian cerita itu.

  • Pembedaan plot berdasarkan kriteria jumlaah

BLEG-BLEG THING menggunakan plot sub-plot berdasarkan kriteria jumlah. Ini terlihat dari cerita dalam naskah itu memiliki lebih dari satu alur cerita yang dikisahkan, atau terdapat lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan perjalanan hidup, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. Struktur plot sub-plot berupa adanya sebuah plot utama (main plot) dan plot-plot tambahan(sub-subplot). Secara keseluruhan plot utama lebih berperan dan penting daripada sub-subplot itu.

  • Pembedaan plot berdasarkan kriteria isi

BLEG-BLEG THING menggunakan plot pemikiran berdasarkan kriteria isi.Naskah ini mengungkapkan sesuatu yang menjadi bahan pemikiran, keinginan, perasaan ,berbagai macam obsesi, dan lain-lain hal yang menjadi masalah hidup dalam kehidupan manusia.

d. Setting atau Latar 

Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadi peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175).

DI KAMPUNG PINGGIRAN KOTA

  • ADEGAN PEMBUKA

Dolanan anak kampung

  • ADEGAN 1

Kahanan kampung dan pekerjaan.

  • ADEGAN 2

Hilangnya si Bardin

  • ADEGAN 3

Upacara BLEG-BLEG THING (upacara goleki wong ilang).

  • ADEGAN 4

Menemukan mayatnya Bardin.

  • ADEGAN 5

Menganalisa, mengurai (ngudar) hilangnya bardin.

e. Pusat pengisahan

Pusat pengisahan yang terjadi dalam naskah drama BLEG-BLEG THING adalah suatu tempat di kampung pinggiran kota

2. Hubungan karya sastra dengan kondisi sosial

Sastra sebagai cermin masyarakat yaitu sejauh mana sastra dianggap sebagai mencerminkan keadaan masyarakatnya. Kata “cermin” di sini dapat menimbulkan gambaran yang kabur, dan oleh karenanya sering disalahartikan dan disalahgunakan. Dalam hubungan ini, terutama harus mendapatkan perhatian adalah.

  1. Sastra mungkin dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ia ditulis, sebab banyak ciri masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis.

  2. Sifat “lain dari yang lain” seorang sastrawan sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya.

  3. Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh masyarakat.

  4. Sastra yang berusaha menampilkan keadaan masyarakat yang secermat-cermatnya mungkin saja tidak bisa dipercaya atau diterima sebagai cermin masyarakat. Demikian juga sebaliknya, karya sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan masyarakat secara teliti barangkali masih dapat dipercaya sebagai bahan untuk mengetahui keadaan masyarakat. Pandangan sosial sastrawan harus diperhatikan apabila sastra akan dinilai sebagai cermin masyarakat (Damono, 1979: 4).

  5. Merujuk pada teori tersebut, naskah “bom waktu” dapat dikaji hubungan karya sastra dengan kondisi masyarakat. Beberapa aspek yang dapat di tinjau adalah ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Segi ekonomi

Naskah ini mengangkat kisah tentang masyarakat yang ekonominya menengah kebawa (miskin). Hal ini tergambar jelas dari setting cerita yang mengangkat kehidupan sekelompok masyarakat yang tinggal di daerah perkampungan pinggir kota (urban), bagaimana masyarakat kecil yang sangat sulit mencukupi kehidupan. Apalagi mengakses kebutuhan ekonomi secara mudah. Jika ditinjau dari segi ekonomi, mengambarkan kampung yang penghuninya dari kalangan menengah ke bawah yang bervariasi, sehingga kebutuhan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan, kebanyakan orang tua, tidak memikirkan untuk kebutuhan pendidikan.

Segi sosial budaya

Kondisi sosial masyarakat yang digambarkan dalam naskah ini adalah gambaran dari kondisi masyarakat daerah kumuh dikaitkan pada saat itu (bahkan sampai sekarang). Jika ditinjau dari segi budaya kita pada saat itu sampai sekarang, keberadaan para penghuni kampung pinggiran kota dianggap sebagai “penyakit masayarakat”. Ditinjau dari segi sosial, sebenarnya naskah BLEG-BLEG THING menggambarkan suatu kritikan terhadap petinggi dan para pejabat pemerintahan yang kurang memperhatikan kehidupan rakyat, khususnya rakyat kelas bawah. Dilihat dari segi sosial, tentunya terdapat keterkaitan dengan segi budaya

Segi politik

Pengarang ingin mengkritik pemerintah, kususnya pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari petikan dalam naskah. Dalam hal ini bukan politik praktis melainkan kondisi politik yang kemudian mempengaruhi situasi sosial masyarakat. Lantas mejadi isu yang merebak kemudian ditanggapi secara bersama lalu menjadi musuh bersama pula.

193. Jarno Gaet : Digratiske apane? nyatane opo brader? Kae wingi anak e Rudi jait, mlebu SMP yo isih mbayar, jarene wis ra nganggo duwit SPP ning sumbangan liyane isih dlidir jumlahe yo jutaan……nek jaman aku kursus mbiyen kae aku krungu yen pamerintah wis ngglontorake duwit trilyunan kanggo ngragati cah sekolah. Wis dipontho-pontho dinggo ngragati bocah sing wong tuwane dho ora mampu, ning nyatane endhi? ngono kuwi opo nek ra gur apus apusan. Mulo ara mokal nek okeh cah do rasekolah mergo wong tuwane dho ra kuwat mbayar, iso ugo si Bardin kuwi lungo adoh mergo nesu raiso sekolah yo sopo ngertiii……pemerintah ki cen asu….nek ono duwit ale rayahan koyo kirik rebutan daging…duwite rakyat okeh diceh-ceh…bajingan tenan

b. Hubungan Pengarang dengan Karya Sastra

  • Tahun 2002 masuk di Komunitas Sego Gurih, pentas LamporAngger Jati Wijaya. Di situ termasuk anak muda yang sudah di jajali masalah-masalah sosial

  • Ketika tahun 1998 masih menempuh pendidikan formal di ISI Yogyakarta banyak mengakat naskah –naskah jawa

  • Di tugas akhir juga menulis analisis naskah TUK

  • Setelah lulus bekerjadi LSM Yayasan pondok rakyat yang di dirikan Romo YB Mangun Wijaya yang di situ mengurusi urban poor (masyarakat miskin kota) di situ bersinggungan langsung, bagaimana cara bertahan hidup, mencari makan, komunikasi, mensiasati ekonomi, pendidikan.

Jadi jika di kaitkan hubungan pengaran dengan karyanya, ada keterikatan. Hal ini bisa dilihat dari latar belakang pengarang, sebagai pekerja di LSM. Jika di lihat dari latar belakang ini tentulah pengarang tau betul bagaimana keadaan atau kondisi yang di alami oleh masyarakat miskin kota karena beberapa tahun tinggal di lingkungan tersebut.

Selain itu latar belakang pengarang juga pernah mengenyam pendidikan seni formal di jurusan teater, dari situ mencoba mengkritik pemerintah dengan cara menuliskannya dalam bentuk naskah drama.

Jadi naskah di tulis berdasarkan pengalaman yang di rasakan dan di lihat di lapangan ( masyarakat miskin kota)

KESIMPULAN

Ada banyak kejadian di lapangan yang mengkerdilkan dan melemahkan masyarakat miskin kota

Kebanyakan mereka bekerja dalam sektor non formal karena pemerintah menutup akses bagi mereka, di sebabkan karena tidak punya pendidikan dan prilaku yang buruk, karena sejarah kampung. Kampung itu terbentuk dari sekelompok orang yang berprofesi, gali, pemain judi, tukang copet, dan psk.

Naskah BLEG-BLEG THING karya Yusuf Peci Miring merupakan naskah ya berkisah tentang masyarakat kelas bawah yang selalu tertindas dan ditindas. Jika dikaji melalui pendekatan struktural genetik naskah ini bisa mewakilkan keadaan social masyarakat miskin kota. Dalam naskah ini pengarang yang memiliki latar belakang social sebagai pekerja LSM yang umumnya bergerak di bidang masyarakat miskin, benar-benar bisa menggambarkan bagaimana nasib masyarakat miskin kota. Naskah ini sarat dengan kritik-kritik social, dan pengarang juga mengkritik pemerintah.

Dwi Vian, Penata Cahaya Komunitas Sego Gurih pada pertunjukan keliling mulai lakon KUP (2009), Suk-Suk Peng (2010), Bleg-Bleg Thing (2011).